Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

TKVDW Poster

Untuk yang sudah menyempatkan diri menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, saya pikir banyak hal positif yang bisa didapat dari film itu. Filmnya sendiri diadaptasi dari novel kolosal karya Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).

TKVDW Novel

 

Sudah seharusnya karya sastra besar semacam itu tetap diingat dan dibaca oleh terpelajar nusantara meski pun terdapat jarak sejarah yang cukup lebar hingga ke hari ini. Salah satu caranya adalah dengan mengadaptasi karya besar itu ke dalam film. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tentu bukan karya sastra yang pertama, karena sebelumnya sudah ada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), Sang Penari (dari Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari), dan sebagainya. Sebagai suatu karya sastra, tentu tulisan para penulis besar Indonesia itu tidak akan terlepas dari latar belakang kebudayaan dimana penulisnya mendapatkan pengaruh.

Begitu juga dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang tidak terlepas dari latar Kebudayaan Minangkabau dikarenakan pada kebudayaan itulah Buya Hamka hidup. Saya mendapat beberapa pertanyaan terkait adat Minangkabau dari teman-teman non-Minang yang menonton film ini bersama saya. Bagi yang telah membaca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau pun telah menonton filmnya, semoga tulisan ini dapat sedikit membantu untuk memahami seluk beluk adat Minangkabau yang diceritakan di dalamnya. Bagi yang belum membaca atau pun menontonnya, semoga tetap bisa belajar walau pun sedikit spoiler ūüėČ

Dimulai dari status kesukuan Zainuddin. Ayahnya berasal dari Minangkabau dan diasingkan ke Makassar. Di sanalah kemudian Si Ayah menikahi seorang gadis asli Makassar dan memiliki anak Zainuddin. Dia kemudian menjadi yatim-piatu dan tumbuh bersama keluarga ibunya di Makassar. Saat beranjak bujang, Zainuddin kemudian memutuskan hendak hidup bersama kerabat ayahnya di Minangkabau. Konflik muncul ketika di Minangkabau ternyata Zainuddin dianggap sebagai orang tidak berasal atau tidak bersuku. Mengapa demikian?

Sudah lazim diketahui bahwa sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau adalah sistem matrilineal, dimana kekerabatan ditarik dari garis keturunan ibu. Sementara pola pernikahan Minangkabau bersifat eksogami, dimana seseorang seharusnya menikah dengan pasangan di luar sukunya sendiri. Suku disini dapat dipahami sebagai golongan (karena masyarakat Minangkabau memang hidup secara komunal dan berkelompok-kelompok), atau dapat juga diartikan sebagai marga. Karena sistem yang matrilineal, maka yang dimaksud dengan suku tersebut tentu saja suku Sang Ibu. Anak hasil pernikahan adalah anggota suku Sang Ibu, bukan suku Ayah.

Dalam kasus Zainuddin, Sang Ibu bukanlah gadis Minangkabau yang memiliki suku. Ibunya adalah gadis Makassar yang tumbuh dengan pemahaman sistem patrilineal. Dalam pemahaman Sang Ibu, tentu Si Ayah-lah yang memegang kuasa atas Zainuddin. Sementara Ayahnya, dengan pemahaman matrilineal, mengerti bahwa ia tidak memiliki kuasa apa pun atas kesukuan Zainuddin dan menyerahkan kuasa Zainuddin kepada ibunya. Dengan demikian, dalam pemahaman budaya Minangkabau, Zainuddin tidak memiliki suku karena Ibunya non-Minang.

Sampai hari ini pun pernikahan antara laki-laki Minangkabau dengan perempuan di luar Minangkabau masih belum menjadi anjuran meski pun sudah diperbolehkan, karena dikhawatirkan Sang Anak tidak akan memiliki suku (meski pun signifikansi dari peran kesukuan ini makin berkurang). Beda halnya jika perempuan Minangkabau yang menikah dengan laki-laki non-Minangkabau, dimana Sang Anak pada akhirnya akan dapat dimasukkan pada suku ibu dan ayahnya sekaligus.

Mengenai musyawarah ninik-mamak dalam memutuskan calon suami untuk Hayati. Dalam budaya Minangkabau, pernikahan memang lazimnya diprakarsai oleh pihak perempuan. Pertimbangan mengenai calon yang cocok bagi si anak gadis memang menjadi bahan rundingan dalam lingkungan keluarga pihak wanita. Dalam Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck, tampak bagaimana ninik-mamak di pihak Hayati yang kemudian sibuk mempertimbangkan apakah Hayati lebih cocok dengan Zainuddin atau Aziz.

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang gemar bermusyawarah. Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan secara demokratis, bahkan jauh sebelum istilah ‚Äėdemokrasi‚Äô itu sendiri dipakai secara luas paska-diimpor dari budaya luar. Falsafah Minangkabau menyebutnya sebagai mupakaik saiyo sakato (mufakat se-iya sekata). Begitu pun dalam hal menentukan jodoh bagi anak gadis. Apalagi Hayati diceritakan sebagai kemenakan (keponakan) dari Penghulu Batipuh, yang mana membuat kedudukan Hayati menjadi perhatian kaum secara luas. Maka tentu saja dalam hal menentukan jodoh pun mamak Hayati tidak akan sembarangan. Digelarlah musyawarah ninik-mamak untuk memutuskannya.

Yang dimaksud dengan ninik-mamak disini mengacu kepada laki-laki dari generasi yang lebih tua. Mamak tidak hanya menjadi sebutan bagi adik laki-laki dari Ibu (paman), namun juga sebutan untuk para tetua pemimpin suku yang dipandang berhak menentukan berbagai keputusan. Sedangkan penghulu dimaknai BUKAN sebagai pihak yang menikahkan sepasang mempelai, namun sebagai pemimpin. Kata penghulu dalam kelembagaan Minangkabau diambil dari kata hulu (tempat berasal/berawal) yang dibubuhi dengan awalan peng-, sehingga penghulu diartikan sebagai yang mengawali suatu kaum, yang memimpin.

Terlepas dari semua aturan adat yang terkesan ketat dan mengekang tersebut, kita harus kembali lagi menengok waktu penulisan novel tersebut oleh Buya Hamka. Novel itu diterbitkan pada tahun 1938 dimana pelaksanaan adat masih sangat kental dan akses informasi dari dan keluar yang tidak seterbuka hari ini membuat adat tersebut kokoh berdiri tidak terganggu. Perlu diingat juga bahwa melalui tulisan-tulisan Zainuddin yang diceritakan dalam novel tersebut tersirat kritikan bernada humanis mengenai pandangan diskriminatif adat yang mengelompokkan manusia berdasarkan keturunan dan kesukuannya. Buya Hamka sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang konsisten mengemukakan nilai-nilai perubahan ke dalam adat Minangkabau agar adat tersebut dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Maka proses kelembagaan yang begitu kaku seperti diceritakan di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tersebut sudah sangat sedikit sekali, jika tidak bisa dibilang sudah memudar, praktiknya di kalangan masyarakat Minangkabau. Kalau pun masih berlangsung, sudah terjadi penyesuaian-penyesuaian agar kelembagaan adat tersebut tetap lestari eksistensinya.

Wisata Pusaka Budaya: Prasasti Peninggalan Kerajaan Minangkabau

Beberapa waktu lalu saat pulang ke Ranah Minang, saya menyempatkan diri momotoran ke Batusangkar, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Budaya Sumatera Barat. Bagaimana tidak, Pagaruyung, pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau, berlokasi di kota tersebut. Banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah berserak di banyak lokasi di Kota Batusangkar, sebagian besar peninggalan zaman batu berupa prasasti-prasasti dan makam-makam raja kuna. Bahkan Istana Basa Pagaruyung (Istana Besar Pagaruyung) masih dipelihara hingga sekarang, meski pun sudah banyak sekali renovasi yang dilakukan untuk mempertahankannya.

Beberapa hasil dokumentasi pribadi akan coba saya ceritakan sejauh pengetahuan saya. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai wisata pusaka budaya singkat di Batusangkar daripada di Istana Basa Pagaruyung itu sendiri.

IMG_1672

 Istana Basa Pagaruyung tentu saja berupa Rumah Gadang, rumah tradisional khas Minangkabau. Rumah panggung tersebut memiliki atap yang terkesan garang namun majestik, atap yang biasa disebut gonjong. Gonjong, yang menyerupai tanduk kerbau, tentu saja terinspirasi dari nama Minangkabau itu sendiri.

Konon nama Minangkabau berasal dari kemenangan yang diperoleh Kerajaan Pagaruyung dalam lomba adu kerbau melawan kerajaan dari pulau seberang. Kerbau seberang itu diceritakan besar, kuat, dan beringas siap diadu. Sementara kerbau kerajaan tidak dapat menyaingi ukuran kerbau kerajaan seberang. Oleh karena itu, dengan kecerdikan luar biasa, kerajaan mengurung anak kerbau menyusui selama beberapa hari tanpa diberikan akses kepada induknya untuk menyusu. Pada tanduk anak kerbau tersebut dipasang minang, semacam besi tajam dan runcing yang didesain melapisi tanduk tersebut. Pada hari pertandingan, begitu kedua kerbau dilepas ke arena aduan, tentu saja anak kerbau yang sangat kehausan itu lari tunggang langgang tanpa tedeng aling-aling menyeruduk kerbau kerajaan seberang yang dianggap induknya, tidak lain untuk mencari air susu. Namun begitu, dalam kisah disebutkan bahwa tanduk anak kerbau tersebut jelas melukai kerbau kerajaan seberang hingga isi perutnya terburai. Dengan demikian, kemenangan tentu saja menjadi milik Kerajaan Pagaruyung. Dari sanalah kemudian nama Minangkabau berasal.

Istana Basa Pagaruyung adalah istana bagi raja-raja Kerajaan Pagaruyung. Nama-nama legendaris seperti Adyawarman dan Adityawarman konon tinggal dan memerintah di istana tersebut. Istana Basa Pagaruyung telah mengalami banyak sekali peristiwa dan melalui banyak tahap renovasi. Istana yang terdapat pada foto di atas juga tergolong masih baru direnovasi setelah kebakaran yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Beberapa foto memperlihatkan keadaan di sekitar halaman istana, termasuk gerbang masuk istana dan rangkiang. Rangkiang merupakan lumbung padi khas Minangkabau dengan atap yang juga bergonjong. Rangkiang biasanya selalu dibangun di halaman depan rumah gadang.

IMG_1679    IMG_1680 - Crop

Di halaman Istana Basa Pagaruyung juga terdapat dokumentasi singkat tentang Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, sebelum kerajaan pada akhirnya harus berhadapan dengan serangan kolonialisme dari Belanda. Selain itu juga terdapat patung Kuda Gumarang, kuda gagah yang konon menjadi tunggangan kebanggaan kerajaan.

IMG_1677     IMG_1675

Tidak jauh dari istana, terdapat peninggalan berupa komplek makam Ustano Raja Alam. Situs seluas 1.196 meter persegi itu dipercaya merupakan tempat dimakamkannya raja-raja kuna Kerajaan Pagaruyung. Terdapat 13 makam bercirikan Islam yang memanjang dari utara ke selatan, dan menjadi bukti bahwa Agama Islam sudah lama berpengaruh di Minangkabau. Ukuran makam antara 210-400 cm dengan lebar 115-280 cm dan tinggi antara 35-35 cm. Raja-raja kuna diyakini tidak cebol seperti kita hari ini (kita? situ aja kaliii …), melainkan tinggi dan tegap. Bahkan makam-makam di sekitar Pagaruyung ini dikenal dengan sebutan Kuburan Panjang, tidak lain karena menjadi tempat bersemayam raja-raja yang perkasa dan tinggi semampai. Nisannya juga dibentuk sedemikian rupa seperti menhir dan bahkan bermotif geometris.

IMG_1683 - Crop   IMG_1682

Wisata pusaka budaya bisa terus dilanjutkan di sepanjang jalan Kota Batusangkar. Cukup dekat dengan Situs Ustano Rajo Alam, terdapat sekumpulan batu Prasasti Adityawarman yang dipagari dalam sepetak tanah kecil di sekitar rumah warga.

IMG_1698   IMG_1686

IMG_1688 IMG_1692 IMG_1694

Aksara yang ditorehkan di atas batu tersebut adalah aksara Jawa (sejarah Kerajaan Pagaruyung sendiri tidak terlepas dari Kerajaan Majapahit) dalam bahasa Sansekerta. Beberapa hurufnya sudah aus dimakan jaman, jadi terjemahan lengkapnya masih belum bisa diungkapkan secara tepat. Secara umum prasasti itu ada yang tidak bertahun (yang umumnya menceritakan riwayat sejarah Adityawarman, dan bahkan Ekspedisi Pamalayu yang terjadi sebelum Adityawarman lahir) dan selebihnya bertanda tahun antara 1269 Р1295 Saka. Meski pun sulit diterjemahkan, namun secara garis besar prasasti tersebut berisikan ucapan selamat dan pujian atas Raja Adityawarman, karena terdapat istilah swasti (istilah yang biasa digunakan dalam acara perayaan dan penanggalan) terukir di batu tersebut. Selain itu juga terdapat dokumentasi beberapa peristiwa bersejarah kerajaan.

Situs yang juga tidak jauh dari Prasasti Adityawarman adalah Prasasti Kubu Rajo. Situs seluas 2.400 meter persegi ini berisikan prasasti-prasasti yang tulisannya juga sudah aus, meski pun ada beberapa yang masih terbaca. Isi prasasti secara umum adalah mengenai anak Raja Adyawarman yang bernama Adityawarman dan menjadi raja di Swarnabhumi (yang berarti Tanah Emas), atau daerah Sumatera hari ini. Selain itu, prasasti yang sudah rapuh dan dipagari tersebut juga di kelilingi oleh banyak makam raja-raja kuna yang letaknya berserak di sekitar prasasti.

IMG_1699    IMG_1706

IMG_1701   IMG_1702

IMG_1703   IMG_1705

Situs berikutnya adalah Batu Batikam. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, batikam bisa berarti bertikam, atau yang memiliki bekas tikaman. Dan memang begitulah adanya batu tersebut, ada lubang bekas ditikam di tengah-tengah batu tersebut. Alkisah, batu tersebut ditikam oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang sebagai tanda perdamaian dengan saudaranya Datuk Katumanggungan perihal sistem pemerintahan yang terlegitimasi di Minangkabau. Setelah batu itu ditikam, batu tersebut menjadi monumen yang menandakan bahwa kedua sistem adat Bodi-Caniago cetusan Datuk Parpatih Nan Sabatang dan sistem adat Koto-Piliang cetusan Datuk Katumanggungan sama-sama boleh berlaku di Minangkabau.

IMG_1718   IMG_1716 - Crop

IMG_1712 - Crop

Batu batikam diletakkan di tengah-tengah tempat musyawarah yang dikenal dengan nama Medan nan Bapaneh. Dalam Bahasa Indonesia, Medan nan Bapaneh berarti area yang disinari matahari. Konon masyarakat Minangkabau senang bermusyawarah, apalagi di tempat-tempat terbuka yang memiliki akses langsung ke alam. Medan nan Bapaneh sendiri disusun dari batu-batu alami dan berbentuk melingkar agar proses musyawarah menjadi interaktif.

IMG_1719 - Crop

Sebenarnya masih ada banyak lagi situs cagar budaya yang tersebar di Kota Batusangkar, hanya saja jaraknya agak lebih jauh dari sekitaran lokasi Istana Basa Pagaruyung. Saya belum sempat ke sana untuk mencari cerita dan foto-foto, mungkin di lain kesempatan. Dari sedikit situs yang sempat saya kunjungi tersebut, ada satu hal kecil yang cukup menarik perhatian saya: kenyataan bahwa semua situs tersebut berlokasi di sekitar Batang Pohon Beringin. Di halaman istana ada Pohon Beringin, di Ustano Rajo Alam, di Kubu Rajo, dan bahkan di Batu Batikam dan Medan nan Bapaneh. Ada apa gerangan antara Pohon Beringin dengan Kerajaan Pagaruyung? Lambang kerajaan? Biar adem? Sumber inspirasi? Entahlah, saya sendiri tidak punya pengetahuan untuk menjawab. Tapi apakah itu penting atau tidak, yah itu kan cuma fakta menarik yang menggelitik saya saja, heheh ūüėČ

IMG_1704   IMG_1710

– Desy Amalia Yusri-

Happy National Batik Day !!!

SELAMAT HARI BATIK NASIONAL 2 OKTOBER !!! ( telat posting sih, heheh :”> )

Hari Batik Nasional ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia bersamaan dengan diakuinya Batik Indonesia sebagai Pusaka Budaya Tak-Benda milik Umat Manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh Badan Perserikatan  Bangsa-Bangsa (PBB) yang bernama United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization atau UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 silam.

Batik sudah hidup bersama masyarakat nusantara dari jaman kerajaan-kerajaan kuno. Pada dasarnya batik adalah seni melukis di atas kain. Konon generasi awal batik dilukiskan di atas daun lontar. Objek yang dilukis pun beragam, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga lukisan manusia sendiri seperti yang ada di relief-relief candi nusantara. Pada masa kerajaan seperti Majapahit saja batik sudah sangat berkembang, jadi bisa disimpulkan bahwa seni membatik sudah lahir bahkan dari sebelum Kerajaan Majapahit menjadi besar.

Motif-motif batik juga dipercaya nenek moyang memiliki kekuatan tersendiri. Ada motif-motif yang diyakini pembawa keberuntungan, dan motif seperti ini biasanya digunakan untuk kain gendong anak bayi agar si anak berlimpah rejekinya. Ada pula motif yang dipercaya dapat mengusir roh jahat.

Pada awalnya, batik adalah pakaian yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan semata. Namun dalam perkembangannya, batik kemudian juga dikenakan oleh masyarakat baik pria, wanita, atau pun anak-anak, meski pun ada beberapa jenis motif batik yang sampai hari ini masih terlarang digunakan oleh rakyat biasa dan hanya boleh digunakan oleh kalangan keraton.

Batik yang benar seharusnya aman sepenuhnya untuk digunakan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Sejak turun temurun seni membatik itu dilakukan dengan bahan-bahan alami. Beberapa tumbuhan Indonesia yang sering digunakan sebagai bahan baku untuk membatik adalah nila dan mengkudu, dengan campuran garam dari lumpur dan abu sebagai sodanya. Batik tulis tentu saja memiliki nilai estetika yang jauh lebih tinggi dari pada batik cetak (printing), dengan harga lebih mahal, namun lebih aman dan kualitasnya memuaskan. Praktik membatik masih berlangsung hingga hari ini.

Jenis batik tradisi sendiri sebenarnya ada banyak. Batik memang diketahui berkembang lebih pesat di Tanah Jawa, tapi bukan berarti wilayah di luar Jawa tidak memiliki motif sendiri-sendiri. Rasanya tidak adil jika batik yang indah itu semata-mata diklaim sebagai Budaya Jawa saja. Bukankah budaya itu tersebar secara diaspora? Sulit sebenarnya untuk menentukan apakah suatu budaya adalah otentik milik suatu bangsa, karena diaspora membuat satu budaya dengan budaya yang lain saling mempengaruhi. Jadi mari kita sebut saja batik sebagai milik kita semua se-nusantara ūüėČ

Di luar Jawa, batik beradaptasi dengan motif yang mengandung local wisdom setempat. Contohnya di Budaya Minangkabau, Sumatera Barat. Budaya Minang lebih dekat dengan tenunan dari pada batik. Sekadar informasi, tenun di Minangkabau masih lestari hingga hari ini terutama di daerah pegunungan Pandai Sikat. Di sana, rata-rata masyarakatnya bertenun. Sebagian besar, kalau tidak bisa disebut semuanya, masih menggunakan alat tenun tradisional. Keterampilan bertenun sendiri adalah pengetahuan yang diwarisi turun temurun oleh warga Pandai Sikat. Hasil tenunannya bukan main cantik sekali. Harganya juga beragam dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah (untuk tenunan yang mengandung emas).

Dikarenakan oleh dasar kain tenunan yang terlalu grande dan wow untuk dipakai sehari-hari, maka motif-motif tenun tersebut dapat dilukiskan ke atas kain yang lebih casual untuk dipakai jalan-jalan, sekolah, ke kantor, atau hanya untuk sekadar main. Dari sinilah kiranya muncul istilah batik nusantara, atau dalam hal ini batik a la Minangkabau (walau pun sebenarnya Budaya Minangkabau tidak begitu familiar dengan batik, hihihi). Berikut beberapa motif yang dapat ditemui pada kain-kain di Minangkabau (dan juga pada ukiran-ukiran dinding dan pahatan) :

1. Motif Aka Cino Sagagang (Akar Cina Segagang) dan Motif Aka Cino Tangah Duo Gagang (Akar Cina Satu Setengah Gagang)

DSC07725

2. Motif Lumuik Anyuik (Lumut Hanyut) dan Motif Aka Barayun (Akar Berayun)

DSC07726

3. Motif Aka Cino Duo Gagang (Akar Cina Dua Gagang) dan Motif Tangguak Lamah (Tangguk Lemah)

DSC07727

4. Motif Si Kambang Manih (Si Kembang Manis) dan Motif Jarek Takambang (Jerat Terkembang)

DSC07728

5. Motif Rajo Tigo Selo (Raja Tiga Sila) dan Motif Si Kambang Manih (Si Kembang Manis)

DSC07729

6. Motif Siku Kalalawa Bagayuik (Siku Kelelawar Bergayut) dan Motif Jarek Takambang (Jerat Terkembang)

DSC07730

7. Motif Salompek (Selompat/Satu Lompatan) dan Motif Siriah Gadang (Sirih Besar)

DSC07731

8. Motif Siku-Siku Badaun (Siku-Siku Berdaun) dan Motif Pucuak Rabuang Salompek Gunuang (Pucuk Rebung Selompat Gunung)

DSC07732

9. Motif Si Kumbang Janti (Si Kumbang Jati) dan Motif Kuciang Lalok (Kucing Tidur)

DSC07737

10. Motif Kambang Papo (Kembang Papa) dan Motif Aka Baduyun (Akar Berduyun)

DSC07738

11. Motif Si Tampuak Manggih (Si Pucuk Manggis) dan Motif Aka Basaua (Akar Bersaur)

DSC07739

12. Motif Saik Galamai 1 (Sayat Gelamai 1) dan Motif Saik Galamai 2 (Sayat Gelamai 2)

DSC07740

13. Motif Saik Galamai 3 (Sayat Gelamai 3) dan Motif Siku-Siku Baragi (Siku-Siku Bercorak)

DSC07741

14. Motif Si Kambang Perak (Si Kembang Perak)

DSC07742

15. Motif Lain dari Aka Cino (Akar Cina)

DSC07743

DSC07744

16. Motif Sipatuang Tabang (Capung Terbang), Motif Bada Mudiak (Ikan Teri Mudik), Motif Cancadu Bararak (Cencadu Berarak), dan Motif Itiak Pulang Patang (Itik Pulang Petang)

DSC07745

17. Motif Wajik (Wajik), Motif Cancadu Manyasok Bungo (Cencadu Menghisap Bunga), dan Motif Siku-Siku Babungo (Siku-Siku Berbunga)

DSC07746

 

 

CATATAN : Gambar diambil dari buku A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)

 

– Desy Amalia Yusri –

 

 

 

Sejarah Minangkabau 1 : Kerajaan Pagaruyung

Prasejarah

Bangsa pertama yang datang ke Minangkabau ialah bangsa yang serumpun dengan bangsa Austronesia yang datang secara bergelombang dari daratan Asia Tenggara. Mereka adalah pendukung kebudayaan Neolitikum, yaitu manusia zaman batu baru. Awal perpindahan itu diperkirakan semenjak tahun 2000 SM. Mereka datang sambil membawa kebudayaan asalnya yang ditandai dengan penemuan benda perunggu dan besi, seperti kampak upacara dan mekara yang besar dengan lukisan yang ada hubungannya dengan kebudayaan Dong-son[1].

Mereka diperkirakan tiba pada tahun 500 SM. Sebagai bangsa yang mendiami kepulauan, nenek moyang orang Minangkabau telah diketahui sebagai bangsa pengembara di lautan. Mereka berlayar ke timur hingga Oceania di Pasifik dan ke barat sampai Afrika Barat. Gelombang kedatangan orang dengan perahu dari Pulau Sumatera itu telah banyak mempengaruhi kebudayaan dan bahasa penduduk Madagaskar[2].

 

Awal Sejarah

Pengetahun sejarah bangsa-bangsa yang mendiami Pulau Sumatera sampai abad ke-4 SM sesungguhnya masih samar. Sejarah Sumatera semakin jelas baru ketika Anexecritus yang berada di India menemukan perahu-perahu Sumatera yang dibawa oleh Iskandar Zulkarnaen (356-323 SM) secara teratur mengunjungi negeri itu. Seorang duta dari Sumatera bernama Rachias juga pernah datang ke istana kaisar Romawi, Claudius, pada abad ke-1 Masehi.

 

Zaman Melayu

Dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus dari Yunani, telah diterakan nama Malaei Colon[3] yang terletak di ujung Tanah Semenanjung. Setidaknya dalam masa Ptolomeus, yang hidup di abad ke-1 Masehi, nama Melayu[4] telah dikenal. Berdasarkan catatan Cina, Melayu dikenal memiliki pusat pemerintahan di tepi Batanghari. Kemudian kerajaan melayu itu dinamakan Sriwijaya.

Sebelum berpindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya mendirikan pusat kerajaan di tepi Batangkampar dengan pusat peribadatan di Candi Budha Muaratakus. Setelah pindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya menjadi besar dan berganti nama menjadi Sailendra setelah rajanya yang bernama Wisnu menikah dengan putri raja Mataram di Jawa Timur. Meski begitu, terjadi perebutan tahta oleh keturunan Raja Wisnu dan kerabatnya di Mataram, sehingga ahli waris Raja Wisnu yang bernama Balaputra kembali ke Sumatera. Balaputra menobatkan diri sebagai raja bergelar Sri Maharaja, dengan kerajaan baru bernama Suwarnabhumi[5].

Karena kerajaan ini dinilai mengganggu lalu lintas perdagangan Kerajaan Cola dari India Selatan menuju China dengan melewati Selat Malaka, maka raja Cola menyerang Suwarnabhumi pada tahun 1017 dan berulang pada 1025. Kerajaan Cola tidak cukup lama menguasai Suwarnabhumi, karena muncul Kerajaan Melayu Darmasraya yang didirikan oleh keturunan Sri Maharaja yang berhasil menyingkir ke hulu Batanghari. Kerajaan ini berkembang dengan raja-raja bergelar Mauliawarman. Oleh rakyatnya raja tersebut disebut Sri Maharaja Diraja[6].

 

Zaman Aditiawarman

Pada tahun 1275, Kerajaan Singasari di bawah Raja Kertanegara melakukan gerakan politik dan militer ke Darmasraya yang terkenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu[7]. Kemudian Kertanegara mengirim Mahamenteri Wiswarupakumara dengan membawa arca Amoghapasa sebagai lambang persahabatan ke Darmasraya.

Selagi utusan Singasari berada di Darmasraya, Kertanegara sendiri dibunuh oleh Jayakatwang, yang kemudian dibunuh pula oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian menjadi raja dan mengganti nama Singasari menjadi Majapahit. Begitu Mahamenteri Wiswarupakumara kembali dengan membawa putri raja Darmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga, sebagai tanda persahabatan Melayu, maka Raden Wijaya-lah yang menerima mereka. Dara Petak diangkat menjadi permaisuri dengan gelar Indraswari, dan melahirkan satu-satunya putra Raden Wijaya, yaitu Jayanegara.

Dara Jingga sendiri, dalam keadaan hamil setelah dikawini oleh pejabat istana Majapahit[8], kembali ke Darmasraya dan melahirkan Aditiawarman. Di Darmasraya, Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, yang diangkat menjadi pejabat tinggi Majapahit di Darmasraya, mendampingi Sri Maharaja Diraja. Dari pernikahan ini Dara Jingga melahirkan seorang putra bernama Prapatih. Nama Prapatih muncul pada arca Amoghapasa di Padang Candi dekat Pagaruyung.

Ketika Patih Gajah Mada dari Majapahit mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1331, maka Darmasraya ikut membantu upaya Majapahit mempersatukan nusantara tersebut dengan mengirimkan utusan yang dikenal sebagai Aryadamar. Besar dugaan bahwa Aryadamar merupakan Aditiawarman sendiri, saudara seayah dari raja Majapahit Jayanegara[9]. Bersama Gajah Mada, Aryadamar menaklukkan banyak daerah di selatan dan utara, termasuk Bali.

Meski begitu, kedudukan Jayanegara sebagai raja Majapahit menggantikan ayahnya Raden Wijaya, tidak begitu direstui karena dianggap berdarah melayu. Jayanegara dibunuh oleh abdi dalemnya yang bernama Tanca, sementara Tanca sendiri langsung ditikam ditempat oleh Gajah Mada. Setelah itu, atas saran dari Gajah Mada maka Majapahit dipimpin oleh saudara tiri Jayanegara, yaitu Jayawisnuwardani, putri dari Rajapatni. Jayawisnuwardani juga telah menyiapkan putranya, Hayam Wuruk, untuk mewarisi tahta Majapahit. Dengan demikian, maka Aditiawarman yang tidak melihat adanya kesempatan berkuasa di Majapahit, memutuskan untuk kembali ke Malayapura (pusat kerajaan Darmasraya) dan menjadi raja dengan gelar Mauliawarmadewa.

Aditiawarman memindahkan pusat kerajaan ke Pagaruyung sebagai upaya memutuskan hubungan dengan Majapahit dan menghindari serangan yang mungkin datang. Pagaruyung dipilih karena berada di kaki Gunung Merapi, sehingga tidak mudah dicapai karena terhalang Bukit Barisan dan hutan. Namun begitu tidak ada serangan yang datang, besar kemungkinan karena rasa segan Gajah Mada karena Aditiawarman adalah teman seperjuangannya dalam memperluas Majapahit. Sangat disayangkan begitu Gajah Mada meninggal tanpa sebab dan Aditiawarman sendiri digantikan oleh anaknya Ananggawarman, kemudian Majapahit memiliki alasan untuk menaklukkan Pagaruyung. Barulah setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, Majapahit melemah, dan pada akhirnya Pagaruyung bisa lepas sepenuhnya dari kekuasaan Majapahit. Sejak saat itu Pagaruyung menjadi pusat pemerintahan raja-raja Minangkabau.

 

 

CATATAN : Penjelasan ini dirangkum sepenuhnya dari tulisan A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)


[1] Dong-son adalah nama tempat di sebelah selatan Hanoi. Nama tempat itu dipakai untuk penamaan atas ciri kebudayaan zaman perunggu di Asia Tenggara karena di tempat itulah ditemukan pertama kali benda-benda sejarah dari zaman perunggu di Asia Tenggara, seperti Birma, Muangthai, dan Indonesia.

[2] Bahasa Malagasi di Madagaskar banyak sekali persamaannya dengan bahasa nusantara. Suku bangsa Merina di Madagaskar mempunyai adat istiadat yang sama dengan suku bangsa Minangkabau dan juga menganut stelsel matrilineal.

[3] Paul Wheatley dalam bukunya The Golden Khorsonese (hal. 154) mengatakan penyamaan Malaei Colon dengan Melayu masih diperdebatkan.

[4] Nama melayu berasal dari Bahasa Sanskerta Malayapura, yang berubah menjadi Malayar, lalu menjadi Malayu atau Melayu, sesuai dengan lidah penduduk Semenanjung. Malaya atau malay artinya gunung. Dalam Bahasa Tamil, Melayu berasal dari kata male (gunung) dan yur (orang), sehingga melayu berarti orang gunung.

[5] Suwarnabhumi artinya tanah emas, dan diidentifikasi sebagai Sriwijaya karena kesamaan wilayah dan asal usul rajanya.

[6] Penggunaan nama Mauliawarman atau Mauliawarmadewa dengan gelar Sri Maharaja Diraja merupakan kekhasan raja-raja Melayu sebagaimana tercatat dalam prasasti di hulu Batanghari (Slamet Muljana, Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnadwipa, Jakarta: Idayu, 1981, hal. 224-232)

[7] Pamalayu diartikan sebagai perang melawan melayu. Dalam Nagarakertagama oleh Mpu Prapanca tahun 1365, ekspedisi itu bertujuan menundukkan melayu namun tidak diceritakan adanya peperangan.

[8] Pejabat istana tersebut diduga Raden Wijaya sendiri, karena selain Dara Petak dan Dara Jingga, Raden Wijaya juga menikahi keempat putri Kertanegara yaitu Tribuana, Mahadewi, Jayendradewi, dan Gayatri atau Rajapatni. Dengan demikian Aditiawarman memiliki keturunan darah Majapahit.

[9] Aryadamar berarti orang yang memiliki sinar, sementara Aditiawarman sendiri secara harfiah juga berarti orang yang memiliki sinar (R. Pitono Hardjowardojo, Aditiawarman, hal. 32-33)

 

– Desy Amalia Yusri –

Instrumen Musik Minangkabau Kelompok Aerophone

1. Saluang Darek

Merupakan jenis instrumen musik tiup yang sangat popoler di Minangkabau. Dinamakan saluang darek, karena tempat tumbuh dan berkembangnya instrumen ini terutama di daerah darek (daratan) Minangkabau yang lebih dikenal juga dengan sebutan Luhan Nan Tigo (luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan luhak Lima Puluh Kota). Saluang Darek terbuat dari bambu talang (sejenis bambu tipis) yang mempunyai ruas yang panjang. Talang yang baik untuk dijadikan saluang adalah talang yang agak tebal. Besar dan panjang saluang darek tergantung pada keinginan orang yang membuat atau si peniup saluang itu sendiri. Walaupun ukuranya tidak pasti, pada umumnya orang membuat saluang darek mempunyai garis tengah lebih kurang 3 s/d 3.5 centimeter. Saluang darek mempunyai 4 (empat) buah lobang nada dengan keadaan ujung dan pangkal saluang tetap bolong. Bunyi dihasilkan melalui tiupan pada salah satu sisi yang bolong tersebut.

Dilihat dari segi bentuknya, instrumen musik saluang darek termasuk jenis end blown flute (tidak mempunyai lidah). Fungsi yang utama dari saluang darek adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang (musik vokal Minangkabau). Di damping itu, juga difungsikan sebagai hiburan pribadi bagi anggota masyarakat yang dimainkan secara tunggal, sebagai ungkapan perasaan yang tak mungkin disampaikan pada orang lain.

Saluang Darek   Saluang Darek

2. Saluang Pauah

Jenis instrumen musik keluarga aerophone dan mempunyai lidah (wistle flute) yang sangat dikenal di daerah Pauah IX (Pauh sembilan) dan Pauah V (Pauh lima) Kota Madya Padang. Saluang ini mempunyai enam buah lobang nada dengan teknik meniup hampir sama dengan recorder. Saluang pauah biasanya digunakan untuk mengiringi dendang kaba dalam acara adat di daerah Pauah dan sekitarnya yang pelaksanaanya dilakukan pada malam hari sampai menjelang subuh. Pertunjukan Saluang Pauah dalam konteks upacara adat lebih bersifat hiburan untuk memeriahkan upacara.

Saluang Pauah  Saluang Pauah

3. Saluang Sirompak

Bentuk lain dari instrumen musik keluarga aerophone yang berkembang di Minangkabau jenis end blown fulte (tidak mempunyai lidah). Saluang Sirompak tumbuh dan berkembang terutama di daerah Taeh Barueh Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Saluang Sirompak mempunyai lima buah lobang nada dengan ketentuan empat buah lobang nada terdapat pada bagian atas, dan satu buah lobang nada terdapat pada bagian belakang (sejajar atau tepat di bawah lobang nada keempat).

Pada masa dahulu, fungsi yang utama dari saluang sirompak adalah sebagai alat untuk mengiringi dendang yang lebih dikenal dengan dendang sirompak. Dendang dan saluang sirompak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan musik sirompak, suatu pertunjukan yang bersifat ritual magi. Tradisi pertunjukan sirompak biasanya difungsikan untuk mempengaruhi orang lain melalui kekuatan magi yang dihimpun dari unsur-unsur pertunjukan. Pertunjukan sirompak menurut tradisi kuno terdiri dari musik dan tari. Biasanya dimainkan oleh 3 s/d 5 orang; satu atau dua orang bertindak sebagai peniup saluang; satu atau dua orang lagi bertindak sebagai pendendang dan satu orang sebagai penari, yang kesemuanya adalah laki-laki. Peranan penari dalam pertunjukan sirompak sangat penting. Kehadiranya tidak hanya semata-mata sebagai penari, akan tetapi lebih dari itu adalah sebagai pawang atau pemimpin pertunjukan (Yuniarti, 1990:35).

Oleh karena ada salah penggunaan terhadap saluang sirompak di masa lalu, sampai sekarang saluang sirompak tidak mengalami perkembangan yang berarti. Namun demikian, sisa-sisa kesenian ini masih bisa ditemui, akan tetepi penggunaanya sangat terbatas. Kadang-kadang masih dilakukan ditempat terpencil yang jauh dari lingkungan masyarakat banyak. Kecuali kalau digunakan sebagai kesenian saja, seperti yang dipelajari di STSI Padang Panjang.

Saluang Sirompak  Saluang Sirompak

4. Saluang Panjang

Intrumen musik keluarga aerophone jenis wistle flute (tidak mempunyai lidah) berkembang terutama di daerah Sungai Pagu, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Oleh karena itu, jenis instrumen saluang ini sering juga disebut dengan saluang sungai pagu. Instrumen saluang panjang mempunyai 3 (tiga) buah lobang nada dengan ketentuan: 2 (dua) buah lobang nada terletak pada bagian atas dan satu buah lobang nada terletak pada bagian bawah. Saluang panjang biasanya difungsikan untuk mengiringi dendang, khusunya dendang-dendang yang berkembang di daerah Sunagi Pagu. Pertunjukannya dilaksanakan dalam rangka memeriahkan upacara adat.

Saluang Panjang  Saluang Panjang

5. Sampelong

Jenis instrumen keluarga aerophone, berkembang terutama di daerah Mungka, Kecamatan Guguk, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Instrumen Sampelong mempunyai 4 (empat) buah lobang nada yang terletak pada bagian atas. Kehadiran sampelong pada masa dahulunya sangat erat dengan kepercayaan gaib, karena sampelong ini harus dilengkapi dengan syarat-syarat tertentu untuk mengunakannya. Tempat memainkannya harus jauh dari keramaian. Sama halnya dengan saluang sirompak, pada masa dahulu sampelong digunakan sebagai kekuatan magi untuk menggilakan anak gadis orang karena menolah cinta seorang pemuda. Syarat-syarat untuk memainkan sampelong antara lain: kemeyan, tulang tengkorak manusia dan limau purut (Erizal, 1990:55). Pada masa sekarang sudah terjadi pergeseran fungsi pertunjukan sampelong, kehadiranya tidak lagi sebagai kekuatan magi dan dimainkan ditempat sunyi. Akan tetapi lebih berfungsi sebagai seni hiburan .

Sampelong   Sampelong

6. Bansi

Bentuk instrumen bansi hampir sama dengan saluang pauah, hanya saja bansi sedikit lebih kecil. Awal perkembangan instrumen musik bansi adalah di daerah Pesisir Selatan (Painan), Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dalam perkembangnya sekarang, intrumen bansi sudah menyebar keberbagai daerah lain di Minangkabau. Bansi mempunyai 7 (tujuh) lobang nada dengan ketentuan: 6 (enam) buah lobang nada terletak pada bagian sebelah atas, dan 1 (satu) buah lobang nada terletak pada bagian belakang (antara lobang nada kelima dan keenam). Instrumen Bansi lebih banyak dimainkan secara tunggal, dan oleh masyarakat juga digunakan untuk hiburan pribadi, sebagai pelipur lara seperti sering dimainkan di sawah-sawah, pondok-pondok oleh anak gembala. Pada saat sekarang, bansi lebih sering digunakan untuk keperluan orkestra karawitan Minangkabau, komposisi musik, musik iringan tari dan tidak jarang digunakan sebagai backgraund suatu pertunjukan teater.

Bansi  Bansi

7. Sarunai Darek

Jenis insrumen musik keluarga aerophone yang berkembang di Minangkabau, terutama di daerah darek (daratan) yang disebut juga dengan luhak nan tigo (luhak Agam, luhak Tanah Datar dan luhak Lima Puluh Kota). Dari bentuk pisiknya sarunai darek terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu bagian induak dan anak (induk dan anak). Bagian induk merupakan tempat lobang nada, dan bagian anak merupakan tempat tiupan sebagai sumber lahirnya suara atau bunyi. Instrumen sarunai darek mempunyai 4 (empat) buah lobang nada yang terletak pada bagian atas.

Fungsi dari sarunai darek hamir sama dengan bansi, dimana instrumen ini lebih banyak digunakan untuk hiburan pribadi sebagai pelipur lara seperti sering dimainkan di sawah-sawah, pondok-pondok oleh anak gembala. Pada saat sekarang, bansi lebih sering digunakan untuk keperluan orkestra karawitan Minangkabau, komposisi musik, musik iringan tari kreasi baru dan lain sebagainya.

Sarunai Darek  Sarunai Darek

8. Sarunai Sungai Pagu

Bentuk lain dari instrumen musiki keluarga aerophone jenis clarinet flute (mempunyai lidah) yang berkembang di Minangkabau. Instrument ini terutama berkembang di daerah Muara Labuh, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Oleh sebab itu, jenis instrumen ini sering juga dinamakan Sarunai Sungai Pagu.

Sarunai Sungai Pagu mempunyai empat buah lobang nada dan bahan pembuatanya terdiri atas tiga macam, yaitu: anak tempat tiupan terbuat dari batang padi; induk tempat lobang nada terbuat dari bambu talang; dan corong terbuat dari kayu nangka. Dalam penyajianya, instrumen ini tidak dimainkan secara tunggal akan tetapi selalu digabungkan dengan gandang yang terdapat di daerah Sungai Pagu, sehingga sering juga disebut Gandang Sarunai Sungai Pagu. Fungsi Sarunai Sungai Pagu tidak jauh berbeda dengan instrumen musik lainnya yang berkembang di Minangkabau yaitu sebagai media hiburan.

9. Sarunai Pesisir

Sarunai pesisir, dikatakan demikian karena pada masa dahulunya instrumen ini berkembang di daerah pesisir selatan Minangkabau. Karena perkembangan kebudayaan serta pendukungnya sendiri Sarunai Pesisir ini juga mengalami penyebaran ke daerah lain di Minangkabau.  Bentuk Sarunai Pesisir sama dengan jenis sarunai yang terdapat di daerah Sungai Pagu. Perbedaannya terletak pada bentuk bagian induk sarunai. Sarunai pesisir terdiri dari lima sambungan dan tiga buah lobang nada. Sedangkan Sarunai Sungai Pagu terdiri dari dua sambungan dan empat buah lobang nada.

Fungsi dari Sarunai Pesisir adalah sebagai media hiburan yang dimainkan pada kegiatan gotong royong; dimulai dari tempat berkumpul sampai pada lokasi kegiatan gotong royong dilaksanakan. Kadangkala Sarunai Pesisir ini juga diiringi dengan Talempong Pacik.

10. Pupuik Gadang

Instrumen ini terbuat dari dua jenis bahan yang berbeda, yaitu: bagian pangkal untuk tiupan terbuat dari batang padi segar dan bagian ujung terbuat dari lilitan dan kelapa bewarna kekuning-kuningan (masih muda) yang berfungsi sebagai corong. Di tengah kehidupan masyarakat, pupuik gadang lebih banyak difungsikan sebagai hiburan untu acara-acara yang bersifat sosial kemasyarakatan. Kadang kala juga dimainkan pada waktu pertunjukan randai (teater daerah Minangkabau) akan dimulai. Pada beberapa daerah, penampilan pupuik gadang ini juga sering diiringi dengan talempong pacik dan gandang (tambur) yang digunakan untuk arak-arakan pengantin.

11. Gandang Tambur

Salah satu jenis instrumen gandang (kendang) yang berkembang di Minangkabau, khususnya di daerah Pariaman dan sebagian kabupaten agam seperti Tiku, Lubuk Basuang, Maninjau dan Malalak. Gandang Tambur mempunyai dua kepala (double headed) ; maksudnya bagian permukaan gandang yang dilapisi dengan kulit (membran). Gandang ini juga termasuk keluarga cylindrical drums (gandang berbentuk slinder). Bagian badan gandang terbuat dari kayu jenis ringan seperti kayu pulai dan kayu kapok. Garis tengah gandang lebih kurang 60 cm dan panjang gandang lebih kurang 80 cm. Kulit yang dipergunakan sebagai membran biasanya kulit kambing atau kulit sapi.

Untuk memainkan gandang tambur ini disandang dibahu dengan posisi gandang terletak pada bagian depan pemainnya. Agar lebih memudahkan, gandang tambur diberi tali penyandang pada kedua sisinya dengan kain yang agak tebal atau semacam ikat pinggang yang dibuat dari kain, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit pada bahu ketika dimainkan. Alat pemukul (panggul) terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa (bentuk bulat pada kedua ujungnya) dengan ukuran yang berbeda. Agak besar untuk pemukul kepala gandang pada posisi atas, dan agak kecil untuk pemukul gandang pada posisi bawah. Jumlah pemain dari gandang tambur ini relatif, biasanya berkisar antara 4-9 orang serta dalam setiap penampikanya sejalan dengan instrumen musik Tasa.

Gandang Tambur  Gandang Tambur

12. Gandang Sarunai Sungai Pagu

Bentuk atau jenis kendang lain yang berkembang di Minangkabau yang terdiri dari 2 (dua) jenis alat, yaitu: gandang dan sarunai. Jenis gandang ini sering juga disebut dengan gandang sarunai Sungai Pagu disebabkan penyajiannya terdiri dari gandang dan sarunai yang terdapat di daerah Sungai Pagu, kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Sama halnya dengan gandang tambur, gandang sarunai Sungai Pagu ini juga mempunyai dua kepala (double headed) dengan ukuran diameter kepala berbeda, yang satu agak lebih besar dari yang lainnya. Dari segi bentuk, instrumen musik ini termasuk keluarga conical drums (gandang berbetuk kerucut). Di tengah kehidupan masyarakat, gandang sarunai Sungai Pagu difungsikan untuk keperluan hiburan pada upacara-upacara seperti: batagak penghulu, helat perkawinan dan lain sebagainya.

Gandang Sarunai  Gandang Sarunai

13. Gandang Aguang

Jenis gandang yang berkembang di Minangkabau khususnya di nagari Labueh Gunuang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jenis gandang ini terdiri dari gandang jantan dan gandang batino dengan ukuran yang berbeda. Dilihat dari segi bentuk, gandang jantan tergolong jenis cylindrical drums (berbentuk slinder), sedangkan gandang batino tergolong bariel drums (gondong berbentuk tong), yaitu pada bagian tengah gandang agak cembung atau diameternya lebih panjang dari kedua bagian kepala gandang.

Gandang aguang ini merupakan bagian dari ensambel musik Talempong Aguang yang terdiri dari: talempong, gong, gandang dan pupuik batang padi. Instrumen Gandang Aguang ini lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan terutama digunakan pada acara-acara yang terdapat di Nagari Labueh Gunuang Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

14. Gandang Katindik

Jenis gandang bermuka dua (double headed) yang sering juga disebut gandang gamat. Hal ini dikarena gandang ini sering digunakan dalam pertunjukan kesenian gamat. Gandang katindik termasuk keluarga barrel drums (gandang berbentuk tong). Gandang Katindik yang berkembang di Minangkabau sama bentuknya dengan gandang katindik yang terdapat dalam karawitan Jawa.

15. Adok

Jenis instrumen musik keluarga membranophone bermuka satu (single headed) yang berkembang di Minangkabau. Instrumen Adok ini termasuk keluarga vissel drums (gandang berbentuk bejana). Oleh karena pada bagian bawah dari Adok ini datar, tidak cembung, maka adok ini bisa juga dikategorikan pada jenis instrumen musik conical drums (gandang berbentuk kerucut).

Pada massa dahulu, adok ini dipergunakan sebagai media dakwah dan untuk menyebarkan informasi lainnya kepada masyarakat. Dalam penyajiannya, adok ini lebih banyak dimainkan secara tunggal. Dalam perkembanganya sekarang sering dimainkan sejalan dengan instrumen musik Minangkabau lainnya seperti: talempong, pupuik sarunai, dan erupakan ensambel musik untuk mengiringi tari-tarian terutama di luhak nan tigo. Untuk daerah Pesisir Selatan, gandang adok dipergunakan untuk mengiringi dendang yang dikenal dengan sebutan dendang adok.

16.Rabano (Rebana)

Jenis gandang bermuka satu (single headed) tergolong keluarga membranophone jenis frame drums (gandang berbingkai). Fungsi rabano pada masa dahulu adalah sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam. Lagu-lagu yang dibawakan memakai bahasa Arab. Sampai sekarang dalam pertunjukan rabano masih membawakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam, namun fungsinya sudah bergeser sebagai media hiburan.

17. Rafa’i

Instrumen musik rafa’i tidak jauh berbeda bentuknya dengan rabano, hanya saja ukuranya lebih kecil. Sama halnya dengan rabano, instrumen musik rafa’i pada masa dahulunya juga difungsikan sebagai sarana untuk syiar agama Islam. Dalam perkembanganya sekarang, rafa’i digunakan sebagai instrumen musik dalam pertunjukan indang. Kadangkala juga dipergunakan sebagai property dalam tarian kreasi Minangkabau.

18. Tasa

Jenis instrumen musik berkepala satu (single headed) yang berkembang di Minangkabau. Berdasarkan bentuknya, tasa ini termasuk keluarga tabular drums dengan jenis vissel drums (gandang berbentuk bejana). Dalam penyajianya, Instrumen tasa tidak dimainkan secara tunggal, akan tetapi sejalan dengan gandang tambur. Komposisi instrumen biasanya berubah-ubah, yaitu 2-8 buah gandang tambur, 1 buah tasa.

Pada masa dahulu instrumen musik ini berfungsi sebagai media dalam menyampaikan dakwah Islam, yaitu untuk menarik perhatian masyarakat agar berkumpul. Dewasa ini Tasa lebih banyak dipergunakan pada acara-acara keramaian anak nagari seperti batagak pangulu, helat kawin, batabuik dan bentuk-bentuk acara keramaian lainya.

 

CATATAN :

Pemaparan dan dokumentasi dikutip dari catatan yang dikirimkan oleh

Wardizal Ssen., Msi., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

 

– ¬†Rahmadina Putri ¬†–

Seni Karawitan Minangkabau

Karawitan semata-mata berperan sebagai alat pengiring nyanyian dan tarian, pengiring permainan debus, dan berbagai perarakan. Lokasi darat dan pesisir banyak menentukan jenis alat karawitan dan juga sifat melodinya.

Melodi darat mempunyai empat nada dan paling tinggi lima dengan metrum yang tidak tetap. Nada penyanyi ditentukan nada yang bisa dikeluarkan alat pengiringnya. Alat-alatnya antara lain :

1. Saluang

Saluang terbuat dari seruas bambu yang berukuran keliling sekitar 2,5 cm dan panjang sekitar 30 cm dengan tiga lubang nada. Cara meniupnya melalui salah satu aluran bambu yang dipotong tanpa buku. Meniupnya tidak terputus-putus karena nafas peniupnya terkontrol dalam mulut hingga pipinya menggembung. Pernapasan peniupnya melalui hidung.

2. Puput Batang Padi

Puput ini digunakan untuk mengiringi perarakan karena suaranya yang tinggi melengking.

Sedangkan melodi di daerah pesisir ditemukan :

1. Rebab

Merupakan alat gesek yang menjadi pengiring nyanyian yang utama. Badan rebab dibuat dari tempurung atau batok kelapa yang paling besar. Sebelah bagian permukaannya ditutup dengan kulit kambing. Lehernya dari seruas bambu. Di sepanjang leher dan badannya yang kulit itu merentang dua helai tali yang dapat disetel dengan alat peregang pada kepala rebab dan sebuah kuda-kuda di atas kulit. Alat penggeseknya terbuat dari seraut bambu dan talinya diregang langsung oleh jari pemain. Nada diatur oleh keempat jari kiri pada leher rebab.

2. Bansi

Merupakan alat tiup yang terbuat dari bambu kecil, sekitar 1,5 cm besarnya. Panjangnya kira-kira 20 cm dengan buku bambu pada salah satu ujungnya. Ruas itu dilubangi dengan ukuran sebesar lubang nada yang ada pada bambu. Jumlah lubang nadanya lima buah. Lagu yang dihasilkan sangat melodius dengan gaya melankolis.

Beberapa alat pukul di antaranya :

1. Talempong

Cara memainkan talempong bisa dengan menenteng dua atau tiga talempong pada satu tangan atau bisa juga dengan menggunakan standar yang bisa diisi dengan lima buah talempong.

Pada talempong yang ditenteng, talempong dimainkan oleh 4 orang. Satu orang yang dijuluki pambaoan (pembawa) menenteng tiga talempong untuk bagian melodinya. Satu orang paningkah (peningkah) menenteng dua talempong untuk mengatur irama. Dua orang lainnya  sebagai pangiriang (pengiring) membawa talempong betina yang bersuara tinggi dan talempong jantan yang bersuara rendah.

2. Gandang (Gendang)

Gandang memiliki banyak variasi: indang, rebana, tansa, gandang keling, gendang tabut, dan adok.

– Indang

Indang merupakan gendang bersisi satu dengan ukuran diameter antara 20 cm hingga 25 cm. Lazimnya indang digunakan untuk permainan debus atau pengiring dzikir.

– Rebana

Rebana juga merupakan gendang bersisi satu yang umumnya digunakan dalam acara nyanyian bernuansa Islam. Pada dinding rangka rebana, ada yang diselipkan dengan pelat bundar sehingga ketika dipukul suaranya berdering.

– Tansa

Tansa merupakan gendang bersisi satu yang cara memukulnya seperti memainkan drum. Alat pemukulnya terbuat dari dua helai rotan. Bunyi yang dihasilkan tinggi, sehingga bisa menyaingi bunyi 10 hingga 12 gendang.

– Gendang Keling

Gendang ini memiliki dua sisi, dengan badan yang panjang dan kedua kulit gendang pada dua sisinya tidak sama besar, sehingga bunyi yang dihasilkan juga berbeda.

– Gendang Tabut

Gendang tabut berukuran besar dengan diameter 40 – 50 cm. Cara memainkannya dengan menggantungkan pada tali yang dilingkarkan pada tengkuk pemain. Terdapat gendang tabut yang berukuran lebih kecil yaitu sekitar 25 cm.

– Adok

Adok merupakan gendang bersisi satu khas daerah darat. Ukurannya lebih besar dari indang, tetapi lebih kecil dari rebana.

CATATAN : Penjelasan ini dirangkum sepenuhnya dari tulisan A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)

– Desy Amalia Yusri –