Pusaka Alam Hutan Sumatera

Pusaka nusantara tidak selalu hadir dalam wujud kebudayaan dan berbagai produknya, baik yang berwujud (tangible) atau pun tidak (intangible). Alam adalah juga bagian dari pusaka. Bagaimana pun juga suatu peradaban selalu berkembang berdasarkan kondisi lingkungan tempat peradaban tersebut tumbuh. Dengan demikian alam berperan signifikan dalam membentuk kebudayaan manusia.

Alam telah diakui oleh UNESCO, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait pendidikan, sains, dan budaya, sebagai salah satu pusaka bersama umat manusia (common heritage of humanity). Kerusakan pada alam tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, pemerintah daerah, atau pun negara. Kerusakan alam adalah tanggung jawab seluruh umat manusia. Dampak kerusakan alam, seperti pemanasan global dan polusi udara, tidak mengenal batas-batas semu bernama negara yang dibentuk sendiri oleh manusia. Maka sudah sepatutnya alam dan pelestariannya menjadi hirauan bersama.

Sumatera, sebagai pulau tropis Indonesia dengan cakupan hutan yang cukup luas dan salah satu hot-spot bagi biodiversitas dunia, memiliki rangkaian hutan yang diakui UNESCO sebagai pusaka dunia: Hutan Hujan Tropis Sumatera (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra). Meski pun pemberian status “Pusaka Dunia” tersebut hanya menjadi hak bagi sebagian kecil dari keseluruhan cakupan hutan di Sumatera, namun hal ini termasuk ke dalam upaya pelestarian hutan Sumatera yang semakin hari semakin berkurang cakupannya. Dan tidak ada daerah di Sumatera yang kehilangan cakupan hutan lebih besar daripada hutan di wilayah Riau.

Hutan Sumatera

(Sumber: Technical Report WWF atas Hutan Sumatera, 2010)

Gambar di atas menunjukkan perkembangan dari berkurangnya cakupan hutan di Sumatera dari tahun ke tahun. Titik merah menandakan hutan yang telah hilang dan rusak. Dapat dilihat bahwa titik merah terbanyak terdapat di wilayah Riau. Merinding mengetahui fakta betapa banyak wilayah hijau berkurang untuk kemudian berganti dengan serbuan titik merah di daerah Riau. Apalagi jika ditambah dengan mengkaji berapa banyak biodiversitas alami yang mati, bahkan punah, karena kehilangan cakupan hutan: harimau, gajah, dan beragam tumbuhan endemik. Manusia sendiri tidak terlepas dari dampak kerusakan hutan, termasuk di dalamnya kenaikan suhu udara, polusi, penyebaran kabut asap hasil pembakaran hutan, dan menurunnya kualitas kesehatan akibat racun yang bertebaran di udara. Betapa menyedihkan😥

Tidak ada maksud untuk mencari siapa yang tersalah, hanya ingin menuliskan lagi kalimat-kalimat usang yang mungkin sudah terlupa. Bahwa penebangan hutan punya dampak luar biasa untuk keseimbangan alam secara keseluruhan. Walau pun hutan yang ditebang masih tetap ditanami dengan tanaman lain, sebutlah kelapa sawit, namun kedudukan hutan alami tidak akan pernah bisa diganti dengan keberadaan tanaman yang ujung-ujungnya dipangkas lagi untuk keberlangsungan industri. Jika pun hutan ditanami lagi, butuh waktu lama bagi hutan alami untuk kembali berfungsi sebagai mana mestinya dalam mengisi keseimbangan alam. Itu pun jika tidak ada bencana apa pun, baik bencana alam atau pun akibat ulah manusia, selama proses penghijauan hutan tersebut. Faktanya pembakaran hutan masih berlangsung, dan hal ini memperkecil kemungkinan berhasilnya regenerasi hutan.

Tuhan menciptakan alam dan manusia untuk hidup berdampingan memang. Manusia menjaga alam dan alam membantu memenuhi KEBUTUHAN manusia. Gandhi pun pernah menyatakan bahwa alam sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan manusia, TAPI TIDAK DENGAN KESERAKAHANNYA. Kebutuhan dan keserakahan adalah dua hal yang berbeda, bukan? Kebutuhan akan berakhir ketika kita merasa cukup dan bersyukur atas kecukupan tersebut. Tapi keserakahan, Oh Tuhan, sungguh keserakahan tidak punya ujung. Tanpa ada prasangka apa-apa, coba tanyakan kepada hati sendiri: apakah penebangan hutan di Riau benar-benar murni upaya pemenuhan kebutuhan atau kah semata karena keserakahan beberapa oknum?

Riau sekarang mandi kabut asap hasil pembakaran hutan. Oh, mungkin faktor musim kemarau dan arah angin ikut berperan dalam penyebaran asap ke berbagai daerah lain di Sumatera, dan bahkan ke negara tetangga Indonesia. Tapi kembali lagi, apakah musim dan arah angin dapat menjadi tersalah jika kabut asap itu asalnya tidak dihasilkan oleh manusia? Musim dan arah angin berjalan sebagaimana mestinya, justru produsen kabut asap tersebut (yang mana adalah manusia) yang seharusnya mempertanyakan dirinya sendiri. Jika memang hutan begitu diperlukan untuk sebatas memenuhi kebutuhan manusianya, maka seharusnya kebutuhan itu sudah terpenuhi sejak lama mengingat luas hutan yang tidak sedikit. Namun mengapa sudah lebih dari 10 tahun, kabut asap hasil pembakaran hutan ini selalu menyapa setiap tahunnya? Mana hasil nyata dari tindakan pencegahan yang sudah disebut-sebut dari tahun-tahun yang lalu? Semurah itu kah manusia memandang alam hari ini? Apakah hanya lembaran-lembaran uang yang dapat dilihat dari daun-daun hijau lebat di hutan-hutan rindang?

Sayang sekali hati nurani seringkali mengalah ketika berperang dengan materi. Sebagai individu, mungkin terlalu jauh untuk bicara mengenai regenerasi hutan skala besar. Bukan kapasitas individu. Pihak yang seharusnya diharapkan untuk mempertahankan hutan pun gagal untuk diandalkan. Sekali lagi, hanya mengulangi kalimat lama yang mungkin saja sudah lama ditinggalkan. Mulai saja dari diri sendiri. Satu manusia yang sayang dengan alamnya mungkin terkesan bukan apa-apa. Bisa apa satu manusia? Tapi ketika si satu memberikan contoh kepada yang lain, dan kemudian satu manusia lagi ikut sayang pada alamnya, dan kemudian bertambah satu lagi, lagi, dan lagi. Semoga alam kemudian juga berkenan menyayangi kita kembali.

 

– Desy Amalia Yusri –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s