Wisata Pusaka Budaya: Prasasti Peninggalan Kerajaan Minangkabau

Beberapa waktu lalu saat pulang ke Ranah Minang, saya menyempatkan diri momotoran ke Batusangkar, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Budaya Sumatera Barat. Bagaimana tidak, Pagaruyung, pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau, berlokasi di kota tersebut. Banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah berserak di banyak lokasi di Kota Batusangkar, sebagian besar peninggalan zaman batu berupa prasasti-prasasti dan makam-makam raja kuna. Bahkan Istana Basa Pagaruyung (Istana Besar Pagaruyung) masih dipelihara hingga sekarang, meski pun sudah banyak sekali renovasi yang dilakukan untuk mempertahankannya.

Beberapa hasil dokumentasi pribadi akan coba saya ceritakan sejauh pengetahuan saya. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai wisata pusaka budaya singkat di Batusangkar daripada di Istana Basa Pagaruyung itu sendiri.

IMG_1672

 Istana Basa Pagaruyung tentu saja berupa Rumah Gadang, rumah tradisional khas Minangkabau. Rumah panggung tersebut memiliki atap yang terkesan garang namun majestik, atap yang biasa disebut gonjong. Gonjong, yang menyerupai tanduk kerbau, tentu saja terinspirasi dari nama Minangkabau itu sendiri.

Konon nama Minangkabau berasal dari kemenangan yang diperoleh Kerajaan Pagaruyung dalam lomba adu kerbau melawan kerajaan dari pulau seberang. Kerbau seberang itu diceritakan besar, kuat, dan beringas siap diadu. Sementara kerbau kerajaan tidak dapat menyaingi ukuran kerbau kerajaan seberang. Oleh karena itu, dengan kecerdikan luar biasa, kerajaan mengurung anak kerbau menyusui selama beberapa hari tanpa diberikan akses kepada induknya untuk menyusu. Pada tanduk anak kerbau tersebut dipasang minang, semacam besi tajam dan runcing yang didesain melapisi tanduk tersebut. Pada hari pertandingan, begitu kedua kerbau dilepas ke arena aduan, tentu saja anak kerbau yang sangat kehausan itu lari tunggang langgang tanpa tedeng aling-aling menyeruduk kerbau kerajaan seberang yang dianggap induknya, tidak lain untuk mencari air susu. Namun begitu, dalam kisah disebutkan bahwa tanduk anak kerbau tersebut jelas melukai kerbau kerajaan seberang hingga isi perutnya terburai. Dengan demikian, kemenangan tentu saja menjadi milik Kerajaan Pagaruyung. Dari sanalah kemudian nama Minangkabau berasal.

Istana Basa Pagaruyung adalah istana bagi raja-raja Kerajaan Pagaruyung. Nama-nama legendaris seperti Adyawarman dan Adityawarman konon tinggal dan memerintah di istana tersebut. Istana Basa Pagaruyung telah mengalami banyak sekali peristiwa dan melalui banyak tahap renovasi. Istana yang terdapat pada foto di atas juga tergolong masih baru direnovasi setelah kebakaran yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Beberapa foto memperlihatkan keadaan di sekitar halaman istana, termasuk gerbang masuk istana dan rangkiang. Rangkiang merupakan lumbung padi khas Minangkabau dengan atap yang juga bergonjong. Rangkiang biasanya selalu dibangun di halaman depan rumah gadang.

IMG_1679    IMG_1680 - Crop

Di halaman Istana Basa Pagaruyung juga terdapat dokumentasi singkat tentang Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, sebelum kerajaan pada akhirnya harus berhadapan dengan serangan kolonialisme dari Belanda. Selain itu juga terdapat patung Kuda Gumarang, kuda gagah yang konon menjadi tunggangan kebanggaan kerajaan.

IMG_1677     IMG_1675

Tidak jauh dari istana, terdapat peninggalan berupa komplek makam Ustano Raja Alam. Situs seluas 1.196 meter persegi itu dipercaya merupakan tempat dimakamkannya raja-raja kuna Kerajaan Pagaruyung. Terdapat 13 makam bercirikan Islam yang memanjang dari utara ke selatan, dan menjadi bukti bahwa Agama Islam sudah lama berpengaruh di Minangkabau. Ukuran makam antara 210-400 cm dengan lebar 115-280 cm dan tinggi antara 35-35 cm. Raja-raja kuna diyakini tidak cebol seperti kita hari ini (kita? situ aja kaliii …), melainkan tinggi dan tegap. Bahkan makam-makam di sekitar Pagaruyung ini dikenal dengan sebutan Kuburan Panjang, tidak lain karena menjadi tempat bersemayam raja-raja yang perkasa dan tinggi semampai. Nisannya juga dibentuk sedemikian rupa seperti menhir dan bahkan bermotif geometris.

IMG_1683 - Crop   IMG_1682

Wisata pusaka budaya bisa terus dilanjutkan di sepanjang jalan Kota Batusangkar. Cukup dekat dengan Situs Ustano Rajo Alam, terdapat sekumpulan batu Prasasti Adityawarman yang dipagari dalam sepetak tanah kecil di sekitar rumah warga.

IMG_1698   IMG_1686

IMG_1688 IMG_1692 IMG_1694

Aksara yang ditorehkan di atas batu tersebut adalah aksara Jawa (sejarah Kerajaan Pagaruyung sendiri tidak terlepas dari Kerajaan Majapahit) dalam bahasa Sansekerta. Beberapa hurufnya sudah aus dimakan jaman, jadi terjemahan lengkapnya masih belum bisa diungkapkan secara tepat. Secara umum prasasti itu ada yang tidak bertahun (yang umumnya menceritakan riwayat sejarah Adityawarman, dan bahkan Ekspedisi Pamalayu yang terjadi sebelum Adityawarman lahir) dan selebihnya bertanda tahun antara 1269 – 1295 Saka. Meski pun sulit diterjemahkan, namun secara garis besar prasasti tersebut berisikan ucapan selamat dan pujian atas Raja Adityawarman, karena terdapat istilah swasti (istilah yang biasa digunakan dalam acara perayaan dan penanggalan) terukir di batu tersebut. Selain itu juga terdapat dokumentasi beberapa peristiwa bersejarah kerajaan.

Situs yang juga tidak jauh dari Prasasti Adityawarman adalah Prasasti Kubu Rajo. Situs seluas 2.400 meter persegi ini berisikan prasasti-prasasti yang tulisannya juga sudah aus, meski pun ada beberapa yang masih terbaca. Isi prasasti secara umum adalah mengenai anak Raja Adyawarman yang bernama Adityawarman dan menjadi raja di Swarnabhumi (yang berarti Tanah Emas), atau daerah Sumatera hari ini. Selain itu, prasasti yang sudah rapuh dan dipagari tersebut juga di kelilingi oleh banyak makam raja-raja kuna yang letaknya berserak di sekitar prasasti.

IMG_1699    IMG_1706

IMG_1701   IMG_1702

IMG_1703   IMG_1705

Situs berikutnya adalah Batu Batikam. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, batikam bisa berarti bertikam, atau yang memiliki bekas tikaman. Dan memang begitulah adanya batu tersebut, ada lubang bekas ditikam di tengah-tengah batu tersebut. Alkisah, batu tersebut ditikam oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang sebagai tanda perdamaian dengan saudaranya Datuk Katumanggungan perihal sistem pemerintahan yang terlegitimasi di Minangkabau. Setelah batu itu ditikam, batu tersebut menjadi monumen yang menandakan bahwa kedua sistem adat Bodi-Caniago cetusan Datuk Parpatih Nan Sabatang dan sistem adat Koto-Piliang cetusan Datuk Katumanggungan sama-sama boleh berlaku di Minangkabau.

IMG_1718   IMG_1716 - Crop

IMG_1712 - Crop

Batu batikam diletakkan di tengah-tengah tempat musyawarah yang dikenal dengan nama Medan nan Bapaneh. Dalam Bahasa Indonesia, Medan nan Bapaneh berarti area yang disinari matahari. Konon masyarakat Minangkabau senang bermusyawarah, apalagi di tempat-tempat terbuka yang memiliki akses langsung ke alam. Medan nan Bapaneh sendiri disusun dari batu-batu alami dan berbentuk melingkar agar proses musyawarah menjadi interaktif.

IMG_1719 - Crop

Sebenarnya masih ada banyak lagi situs cagar budaya yang tersebar di Kota Batusangkar, hanya saja jaraknya agak lebih jauh dari sekitaran lokasi Istana Basa Pagaruyung. Saya belum sempat ke sana untuk mencari cerita dan foto-foto, mungkin di lain kesempatan. Dari sedikit situs yang sempat saya kunjungi tersebut, ada satu hal kecil yang cukup menarik perhatian saya: kenyataan bahwa semua situs tersebut berlokasi di sekitar Batang Pohon Beringin. Di halaman istana ada Pohon Beringin, di Ustano Rajo Alam, di Kubu Rajo, dan bahkan di Batu Batikam dan Medan nan Bapaneh. Ada apa gerangan antara Pohon Beringin dengan Kerajaan Pagaruyung? Lambang kerajaan? Biar adem? Sumber inspirasi? Entahlah, saya sendiri tidak punya pengetahuan untuk menjawab. Tapi apakah itu penting atau tidak, yah itu kan cuma fakta menarik yang menggelitik saya saja, heheh😉

IMG_1704   IMG_1710

– Desy Amalia Yusri-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s