Sejarah Minangkabau 1 : Kerajaan Pagaruyung

Prasejarah

Bangsa pertama yang datang ke Minangkabau ialah bangsa yang serumpun dengan bangsa Austronesia yang datang secara bergelombang dari daratan Asia Tenggara. Mereka adalah pendukung kebudayaan Neolitikum, yaitu manusia zaman batu baru. Awal perpindahan itu diperkirakan semenjak tahun 2000 SM. Mereka datang sambil membawa kebudayaan asalnya yang ditandai dengan penemuan benda perunggu dan besi, seperti kampak upacara dan mekara yang besar dengan lukisan yang ada hubungannya dengan kebudayaan Dong-son[1].

Mereka diperkirakan tiba pada tahun 500 SM. Sebagai bangsa yang mendiami kepulauan, nenek moyang orang Minangkabau telah diketahui sebagai bangsa pengembara di lautan. Mereka berlayar ke timur hingga Oceania di Pasifik dan ke barat sampai Afrika Barat. Gelombang kedatangan orang dengan perahu dari Pulau Sumatera itu telah banyak mempengaruhi kebudayaan dan bahasa penduduk Madagaskar[2].

 

Awal Sejarah

Pengetahun sejarah bangsa-bangsa yang mendiami Pulau Sumatera sampai abad ke-4 SM sesungguhnya masih samar. Sejarah Sumatera semakin jelas baru ketika Anexecritus yang berada di India menemukan perahu-perahu Sumatera yang dibawa oleh Iskandar Zulkarnaen (356-323 SM) secara teratur mengunjungi negeri itu. Seorang duta dari Sumatera bernama Rachias juga pernah datang ke istana kaisar Romawi, Claudius, pada abad ke-1 Masehi.

 

Zaman Melayu

Dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus dari Yunani, telah diterakan nama Malaei Colon[3] yang terletak di ujung Tanah Semenanjung. Setidaknya dalam masa Ptolomeus, yang hidup di abad ke-1 Masehi, nama Melayu[4] telah dikenal. Berdasarkan catatan Cina, Melayu dikenal memiliki pusat pemerintahan di tepi Batanghari. Kemudian kerajaan melayu itu dinamakan Sriwijaya.

Sebelum berpindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya mendirikan pusat kerajaan di tepi Batangkampar dengan pusat peribadatan di Candi Budha Muaratakus. Setelah pindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya menjadi besar dan berganti nama menjadi Sailendra setelah rajanya yang bernama Wisnu menikah dengan putri raja Mataram di Jawa Timur. Meski begitu, terjadi perebutan tahta oleh keturunan Raja Wisnu dan kerabatnya di Mataram, sehingga ahli waris Raja Wisnu yang bernama Balaputra kembali ke Sumatera. Balaputra menobatkan diri sebagai raja bergelar Sri Maharaja, dengan kerajaan baru bernama Suwarnabhumi[5].

Karena kerajaan ini dinilai mengganggu lalu lintas perdagangan Kerajaan Cola dari India Selatan menuju China dengan melewati Selat Malaka, maka raja Cola menyerang Suwarnabhumi pada tahun 1017 dan berulang pada 1025. Kerajaan Cola tidak cukup lama menguasai Suwarnabhumi, karena muncul Kerajaan Melayu Darmasraya yang didirikan oleh keturunan Sri Maharaja yang berhasil menyingkir ke hulu Batanghari. Kerajaan ini berkembang dengan raja-raja bergelar Mauliawarman. Oleh rakyatnya raja tersebut disebut Sri Maharaja Diraja[6].

 

Zaman Aditiawarman

Pada tahun 1275, Kerajaan Singasari di bawah Raja Kertanegara melakukan gerakan politik dan militer ke Darmasraya yang terkenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu[7]. Kemudian Kertanegara mengirim Mahamenteri Wiswarupakumara dengan membawa arca Amoghapasa sebagai lambang persahabatan ke Darmasraya.

Selagi utusan Singasari berada di Darmasraya, Kertanegara sendiri dibunuh oleh Jayakatwang, yang kemudian dibunuh pula oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian menjadi raja dan mengganti nama Singasari menjadi Majapahit. Begitu Mahamenteri Wiswarupakumara kembali dengan membawa putri raja Darmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga, sebagai tanda persahabatan Melayu, maka Raden Wijaya-lah yang menerima mereka. Dara Petak diangkat menjadi permaisuri dengan gelar Indraswari, dan melahirkan satu-satunya putra Raden Wijaya, yaitu Jayanegara.

Dara Jingga sendiri, dalam keadaan hamil setelah dikawini oleh pejabat istana Majapahit[8], kembali ke Darmasraya dan melahirkan Aditiawarman. Di Darmasraya, Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, yang diangkat menjadi pejabat tinggi Majapahit di Darmasraya, mendampingi Sri Maharaja Diraja. Dari pernikahan ini Dara Jingga melahirkan seorang putra bernama Prapatih. Nama Prapatih muncul pada arca Amoghapasa di Padang Candi dekat Pagaruyung.

Ketika Patih Gajah Mada dari Majapahit mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1331, maka Darmasraya ikut membantu upaya Majapahit mempersatukan nusantara tersebut dengan mengirimkan utusan yang dikenal sebagai Aryadamar. Besar dugaan bahwa Aryadamar merupakan Aditiawarman sendiri, saudara seayah dari raja Majapahit Jayanegara[9]. Bersama Gajah Mada, Aryadamar menaklukkan banyak daerah di selatan dan utara, termasuk Bali.

Meski begitu, kedudukan Jayanegara sebagai raja Majapahit menggantikan ayahnya Raden Wijaya, tidak begitu direstui karena dianggap berdarah melayu. Jayanegara dibunuh oleh abdi dalemnya yang bernama Tanca, sementara Tanca sendiri langsung ditikam ditempat oleh Gajah Mada. Setelah itu, atas saran dari Gajah Mada maka Majapahit dipimpin oleh saudara tiri Jayanegara, yaitu Jayawisnuwardani, putri dari Rajapatni. Jayawisnuwardani juga telah menyiapkan putranya, Hayam Wuruk, untuk mewarisi tahta Majapahit. Dengan demikian, maka Aditiawarman yang tidak melihat adanya kesempatan berkuasa di Majapahit, memutuskan untuk kembali ke Malayapura (pusat kerajaan Darmasraya) dan menjadi raja dengan gelar Mauliawarmadewa.

Aditiawarman memindahkan pusat kerajaan ke Pagaruyung sebagai upaya memutuskan hubungan dengan Majapahit dan menghindari serangan yang mungkin datang. Pagaruyung dipilih karena berada di kaki Gunung Merapi, sehingga tidak mudah dicapai karena terhalang Bukit Barisan dan hutan. Namun begitu tidak ada serangan yang datang, besar kemungkinan karena rasa segan Gajah Mada karena Aditiawarman adalah teman seperjuangannya dalam memperluas Majapahit. Sangat disayangkan begitu Gajah Mada meninggal tanpa sebab dan Aditiawarman sendiri digantikan oleh anaknya Ananggawarman, kemudian Majapahit memiliki alasan untuk menaklukkan Pagaruyung. Barulah setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, Majapahit melemah, dan pada akhirnya Pagaruyung bisa lepas sepenuhnya dari kekuasaan Majapahit. Sejak saat itu Pagaruyung menjadi pusat pemerintahan raja-raja Minangkabau.

 

 

CATATAN : Penjelasan ini dirangkum sepenuhnya dari tulisan A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)


[1] Dong-son adalah nama tempat di sebelah selatan Hanoi. Nama tempat itu dipakai untuk penamaan atas ciri kebudayaan zaman perunggu di Asia Tenggara karena di tempat itulah ditemukan pertama kali benda-benda sejarah dari zaman perunggu di Asia Tenggara, seperti Birma, Muangthai, dan Indonesia.

[2] Bahasa Malagasi di Madagaskar banyak sekali persamaannya dengan bahasa nusantara. Suku bangsa Merina di Madagaskar mempunyai adat istiadat yang sama dengan suku bangsa Minangkabau dan juga menganut stelsel matrilineal.

[3] Paul Wheatley dalam bukunya The Golden Khorsonese (hal. 154) mengatakan penyamaan Malaei Colon dengan Melayu masih diperdebatkan.

[4] Nama melayu berasal dari Bahasa Sanskerta Malayapura, yang berubah menjadi Malayar, lalu menjadi Malayu atau Melayu, sesuai dengan lidah penduduk Semenanjung. Malaya atau malay artinya gunung. Dalam Bahasa Tamil, Melayu berasal dari kata male (gunung) dan yur (orang), sehingga melayu berarti orang gunung.

[5] Suwarnabhumi artinya tanah emas, dan diidentifikasi sebagai Sriwijaya karena kesamaan wilayah dan asal usul rajanya.

[6] Penggunaan nama Mauliawarman atau Mauliawarmadewa dengan gelar Sri Maharaja Diraja merupakan kekhasan raja-raja Melayu sebagaimana tercatat dalam prasasti di hulu Batanghari (Slamet Muljana, Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnadwipa, Jakarta: Idayu, 1981, hal. 224-232)

[7] Pamalayu diartikan sebagai perang melawan melayu. Dalam Nagarakertagama oleh Mpu Prapanca tahun 1365, ekspedisi itu bertujuan menundukkan melayu namun tidak diceritakan adanya peperangan.

[8] Pejabat istana tersebut diduga Raden Wijaya sendiri, karena selain Dara Petak dan Dara Jingga, Raden Wijaya juga menikahi keempat putri Kertanegara yaitu Tribuana, Mahadewi, Jayendradewi, dan Gayatri atau Rajapatni. Dengan demikian Aditiawarman memiliki keturunan darah Majapahit.

[9] Aryadamar berarti orang yang memiliki sinar, sementara Aditiawarman sendiri secara harfiah juga berarti orang yang memiliki sinar (R. Pitono Hardjowardojo, Aditiawarman, hal. 32-33)

 

– Desy Amalia Yusri –

3 thoughts on “Sejarah Minangkabau 1 : Kerajaan Pagaruyung

  1. Tentang i5 negeri jajahan dharmas raya itu yang termasuk sunda, serilangka, kamboja itu yang menaklukkan orang orang seriwijaya ( orang sumsel dan bengkulu) bukan orang minangkabaw/ padang yang menaklukkan. mana pernah padang menyerang sunda apalagi serilangka. tetapi yang menyerang sunda dan serilangka itu adalah seriwijaya. adapun palembang dimasukkan ke dharmasraya karena palembang sudah bukan lagi ibukota seriwijaya/ sudah ditinggalkan seriwijaya karena seriwijaya mendapat serangan dari rajendra kola dewa dari india. jadi wajar palembang sebagai bekas ibukota seriwijaya ketika dipindahkan ke dharmasraya dimasukkan kewilayah dharmasraya.
    karena sangsapurba raja pertama dharmasraya itu adalah raja seriwijaya keturunan dapuntahyang serijaya naga. yang menyingkir ke dharmas raya pasca serangan dari cola india. buktinya seluruh keterangan luar baik cina india, nepal, arab semua mengatakan sanfotsi itu seriwijaya. padahal anfotsi itu adalah dharmasraya. karena apa karena memang Dharmas raya/ san- fo-si itu adalah seriwijaya atau berasal dari seriwijaya. jadi otomatis wilayah wilayah seriwijaya akhir sebelum pindah kedharmasraya dimasukkan lagi kedharmasraya oleh raja- rajanya. karena memang raja2 dharmasraya berasal dari seriwijaya. dan seriwijaya itu berasal dari rumpun suku bangsa pasemah ( yang mendiami wilayah sumsel dan bengkulu)

  2. Dan dalam 15 negeri wilayah dharmas raya/ sanfosi itu tidak pernah dimasukkan/ disebut seriwijaya. karena itulah seriwijaya. sekali lagi tentang palembang kenapa dimasukkan karena palembang bukan lagi pusat seriwijaya karena telah ditinggalkan jadi wajar dan harus dimasukkan kedalam seriwjaya baru/ sanfosi/ dharmasraya. jadi palembang bukan lagi seriwijaya melainkan dharmasraya.
    adapun pamalayu kertanegara itu bukan perang dengan dharmasraya. tetapi misi persahabatan dalam rangka menggalang persekutuan dalam menghadapi perang dengan cina mongol kubilaikhan.
    dan dua putri dharmasraya yang bernama dara petak dan dara jingga itu bukan sebagai taklukan tetapi sebagai persahabatan.
    adapun palembang pada waktu itu telah menjadi sarang bajak laut cina. mana berani kerta negara kepalembang yang nota bene orang cina sedangkan misi kertanegara adalah untuk menghadapi perang dengan cina dengan raja besar nya dari dinasti yuan yaitu kubilaikhan.

    • Waaah, terima kasih banyak ilmunya, mas. Memang kita pun masih belajar dan masih belum banyak membaca. Apa yang kita tulis semata hanya dari sedikit bacaan yang kita tau, namun tetap kita ingin membagikan pengetahuan yang sedikit itu lewat tulisan. Beruntung sekali ada komentar yang menambahkan lebih banyak lagi pengetahuan. Sriwijaya memang luas sekali, dan benar Minangkabau adalah pecahan dari kerajaan besar yang kemudian berdiri sendiri. Tidak ada unsur superioritas kok😉

      Kalau mas Putra Sumsel berkenan, kita ingin sekali tau lebih banyak cerita kerajaan lampau di Sumatera ini. Toh Sumsel sendiri adalah bagian dari Sumatera. Anggaplah kita belajar bersama. Jika mas Putra Sumsel berkenan, boleh sekali mengirimkan tulisan tentang Sriwijaya ini ke email kita di [sarunai.sumatera@gmail.com] dan akan kita publish di blog ini atas nama mas Putra Sumsel tentu saja. Menyenangkan sekali kalau bisa belajar bersama. Sekali lagi terima kasih, mas😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s