Cerita Dibalik Sarunai Sumatera

Menyeleksi 35 orang dari 274 pendaftar jelas bukanlah hal yang mudah! Setelah selama sebulan lebih mencari-cari, akhirnya panitia Heritage Camp 2013 yang terdiri atas volunteer Lontara Project serta mahasiswa-mahasiswi UGM berhasil menemukan mereka. Agen-agen konservasi kreatif budaya yang mewakili empat klaster besar Nusantara: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara ini satu tekad dan percaya bahwa untuk melestarikan budaya di era globalisasi, kekreatifan dan jiwa muda amat dibutuhkan“.

Paragraf pembuka pada tulisan yang dibuat oleh Mas Ahlul  tertanggal 3 Maret 2013 via lontaraproject.com itu menjelaskan secara singkat bagaimana Sarunai Sumatera ini kemudian digagas.

Heritage Camp 2013 menjadi awal segalanya buat kita. Lontara Project, dibantu oleh dukungan dari berbagai pihak, berhasil menyelenggarakan Heritage Camp 2013 dengan tujuan konservasi kreatif pusaka nusantara oleh pemuda Indonesia. Terpilihlah 35 orang, dengan latar belakang budaya berbeda-beda namun satu tujuan : pelestarian pusaka nusantara.

Kita belajar banyak dari Bapak Daud Tanudirjo mengenai pusaka atau heritage ini, termasuk wujud pusaka yang tidak hanya melulu tentang benda dan artefak kuno: (a) Pusaka alam tentu saja wujudnya berupa alam, ciptaan Sang Pencipta yang kamu rasakan hidup atau menghidupi; (b) Pusaka budaya mencakup kesenian tradisional, cerita rakyat, kearifan lokal, kuliner, motif pakaian, beserta segala keindahan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia; (c) Pusaka saujana (atau UNESCO menyebutkan dengan cultural landscape) merupakan kombinasi dari pusaka alam dan pusaka budaya, contoh dekatnya adalah sistem subak pada sawah-sawah di Bali. Persawahan tentu saja merupakan bagian dari alam, namun sistem subak, selain menyenangkan untuk dilihat, juga mengandung kearifan lokal Bali di dalamnya. Ohiya, kita juga dikenalkan oleh Mbak Sinta Ridwan dengan aksara kuna yang pernah digunakan nenek moyang dari generasi lampau, namun terancam sekali eksistensinya hari ini. Bahkan kita diajarkan untuk menulis dengan aksara Sunda kuna dan menginterpretasi naskah kuno dari Cirebon.

Selain mengenal pusaka, kita juga diberikan kesempatan untuk mengetahui metode pelestarian kreatif oleh tokoh-tokoh luar biasa negeri ini. Om Garin Nugroho menceritakan pengalamannya menyimpan pusaka dengan rapi melalui dunia film. Setelah itu Om Djaduk Ferianto juga berbagi cerita perjuangannya menyusun pusaka nusantara dalam melodi musik antar-genre dan antar-generasi. Mas Is Yuniarto melukiskan pusaka nusantara dalam versi komik menggemaskan agar dapat memperkenalkan kisah-kisah epik nusantara kepada banyak usia. Pusaka yang kemudian menjadi bagian dari suatu peradaban menjadi cerita diskusi kita bersama Om Suwarno Wisetrotomo. Ibu Laretna Adisakti juga ikut menginspirasi kita melalui upaya pelestarian yang Beliau rintis bersama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Dengan berbekal pengetahuan mengenai pusaka tersebut, kita terdorong untuk juga ikut menjadi bagian pelestarian pusaka. Kita belajar merancang suatu rencana aksi (action plan) pelestarian pusaka melalui kunjungan ke Omah UGM di Kota Gede, Yogyakarta. Setelah itu kita dikelompokkan ke dalam klaster besar sesuai latar belakang budaya yang kita punya. Eits, bukan separatisme ya, hahhaa. Tujuannya adalah untuk merancang rencana aksi pelestarian pusaka di daerah masing-masing. Karena Indonesia kita ini punya beragam budaya, tentu saja rencana aksi pelestariannya akan lebih efektif dan efisien jika dirancang oleh subjek yang mengerti dengan budaya tersebut.

Dari klaster Sumatera, kita bentuk Sarunai Sumatera ini. Kenapa Sarunai? Karena setelah kita saling cerita, akhirnya kita putuskan bahwa sebenarnya Tanah Sumatera (walaupun terdapat banyak provinsi dengan budaya yang berbeda) memiliki akar budaya yang hampir mirip yaitu berangkat dari rasa Melayu. Meski ada banyak kesamaan, namun setelah berdiskusi kecil kita memutuskan bahwa Sarunai-lah yang didaulat sebagai perlambang kesamaan itu. Sarunai terdapat di hampir semua wilayah di Tanah Sumatera. Maka dengan demikian Sarunai Sumatera secara resmi terbentuk🙂

Rencana aksi Sarunai Sumatera terinspirasi dari penggunaan batik yang syukurnya semakin meningkat. Kita juga ingin mengabarkan kepada nusantara bahwa di Sumatera juga terdapat banyak motif etnik yang unik. Dari ide mengenai motif etnik sebagai pakaian sehari-hari ini, gagasan kita kemudian meluas menjadi kaos.

Kenapa kaos? Karena kita berpendapat bahwa kaos memberikan ruang kreasi yang lebih luas bagi ide kita. Lewat kaos, kita bisa melukiskan tidak hanya motif etnik Sumatera, namun gagasan kita bahkan mencakup ke desain semua pusaka Tanah Sumatera, termasuk senjata tradisional Sumatera, kuliner tradisi Sumatera, mistisisme Sumatera, pantun Sumatera, kekayaan hutan Sumatera, dan semua pusaka lain yang terdapat di Tanah Sumatera.

Kenapa kaos? Karena menurut hemat kita, semua orang suka mengenakan kaos, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan bahkan juga orang tua. Jadi kita berpikir kalau medianya kaos, target yang kita sasar akan lebih banyak.

Kenapa kaos? Karena selain nyaman, harga kaos pun tergolong masih terjangkau oleh masyarakat Indonesia dan dapat digunakan dibanyak kegiatan.

Lewat blog ini kita bermaksud untuk mengabarkan segala ragam pusaka Tanah Sumatera kepada nusantara, dan (semoga) kepada dunia. Kita akan menghadirkan berbagai pusaka tersebut ke dalam desain kaos. Pusaka yang terdapat dalam desain kaos tersebut akan terlebih dahulu kita bantu terangkan semampu kita mengenai makna dan filosofinya melalui blog sederhana ini. Jadi para pemakai kaos pun bisa menjadi pengguna budiman yang mengerti akan esensi kaos yang dikenakan, untuk pada akhirnya ikut membantu upaya pelestarian pusaka di Tanah Sumatera. Pemakai kaos, karena telah mengetahui makna dan filosofi desain kaosnya, dapat menyebarkan makna dan filosofi itu kepada keluarga atau pun teman-temannya. Semakin banyak yang tahu, semakin lestarilah pusaka kita.

Salam Sarunai!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s