Happy World Heritage Day !!!

Mengacu kepada definisi yang dikeluarkan oleh UNESCO, badan kebudayaan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), maka pusaka (heritage) merupakan peninggalan dari masa lalu, yang hidup bersama manusia saat ini, dan akan diteruskan kepada generasi masa depan untuk mereka belajar, mensyukuri, dan menikmatinya.

Konstitusi Indonesia sendiri telah mengatur perihal pusaka nusantara melalui undang-undang No.11 Tahun 2010 yang menyebutkan bahwa :

Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Seperti yang telah diketahui, pada tanggal 18 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day). Tanggal ini pada awalnya ditetapkan oleh Dewan internasional terkait Monumen dan Situs atau ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) sebagai Hari Monumen dan Situs Internasional. Disebabkan oleh ICOMOS sendiri adalah badan penasehat (advisory body) dalam penetapan pusaka dunia (world heritage) kategori pusaka budaya oleh UNESCO, maka Hari Monumen dan Situs Internasional tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pusaka Dunia.

Pusaka tentu saja tidak hanya mengenai kebudayaan dan produk yang dihasilkannya. Di dalam piagam pelestarian pusaka nusantara telah disebutkan kategorisasi dari pusaka nusantara yang meliputi :

  • Pusaka alam adalah bentukan alam yang istimewa
  • Pusaka budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih dari 500 ribu bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka budaya dapat berwujud dan tidak berwujud.
  • Pusaka saujana adalah gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu.

Sebagai pencetus dari Hari Pusaka Dunia, UNESCO dalam situsnya menyebutkan tujuan dari peringatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengajak komunitas lokal serta individu di berbagai belahan dunia untuk ikut serta menyadari arti penting peninggalan peradaban bagi kehidupan, identitas, dan komunitas, serta untuk memperkenalkan keberagaman pusaka dengan segala upaya yang diperlukan untuk melindunginya dari segala ancaman kepunahan.

Tema yang ditetapkan oleh ICOMOS untuk Hari Pusaka Dunia tanggal 18 April 2014 ini adalah pusaka yang berisikan ingatan (heritage of commemoration), dalam makna bahwa beragam macam benda pusaka telah bertahan melewati berbagai zaman dan dengan demikian telah merekam banyak memori dunia dan menjadi saksi atas berbagai peristiwa masa lalu manusia. Ingatan yang disimpan oleh pusaka inilah yang kemudian menjadi hirauan dalam proses perlindungannya, karena di dalam ingatan tersebut tersimpan pelajaran, kisah turun temurun, dan identitas yang dapat dibanggakan.

Maka dari itu, SELAMAT HARI PUSAKA DUNIA SEMUANYA !!! Mari bersama-sama kita lestarikan pusaka nusantara😀

 

– Tim Sarunai Sumatera –

Pusaka Alam Hutan Sumatera

Pusaka nusantara tidak selalu hadir dalam wujud kebudayaan dan berbagai produknya, baik yang berwujud (tangible) atau pun tidak (intangible). Alam adalah juga bagian dari pusaka. Bagaimana pun juga suatu peradaban selalu berkembang berdasarkan kondisi lingkungan tempat peradaban tersebut tumbuh. Dengan demikian alam berperan signifikan dalam membentuk kebudayaan manusia.

Alam telah diakui oleh UNESCO, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait pendidikan, sains, dan budaya, sebagai salah satu pusaka bersama umat manusia (common heritage of humanity). Kerusakan pada alam tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, pemerintah daerah, atau pun negara. Kerusakan alam adalah tanggung jawab seluruh umat manusia. Dampak kerusakan alam, seperti pemanasan global dan polusi udara, tidak mengenal batas-batas semu bernama negara yang dibentuk sendiri oleh manusia. Maka sudah sepatutnya alam dan pelestariannya menjadi hirauan bersama.

Sumatera, sebagai pulau tropis Indonesia dengan cakupan hutan yang cukup luas dan salah satu hot-spot bagi biodiversitas dunia, memiliki rangkaian hutan yang diakui UNESCO sebagai pusaka dunia: Hutan Hujan Tropis Sumatera (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra). Meski pun pemberian status “Pusaka Dunia” tersebut hanya menjadi hak bagi sebagian kecil dari keseluruhan cakupan hutan di Sumatera, namun hal ini termasuk ke dalam upaya pelestarian hutan Sumatera yang semakin hari semakin berkurang cakupannya. Dan tidak ada daerah di Sumatera yang kehilangan cakupan hutan lebih besar daripada hutan di wilayah Riau.

Hutan Sumatera

(Sumber: Technical Report WWF atas Hutan Sumatera, 2010)

Gambar di atas menunjukkan perkembangan dari berkurangnya cakupan hutan di Sumatera dari tahun ke tahun. Titik merah menandakan hutan yang telah hilang dan rusak. Dapat dilihat bahwa titik merah terbanyak terdapat di wilayah Riau. Merinding mengetahui fakta betapa banyak wilayah hijau berkurang untuk kemudian berganti dengan serbuan titik merah di daerah Riau. Apalagi jika ditambah dengan mengkaji berapa banyak biodiversitas alami yang mati, bahkan punah, karena kehilangan cakupan hutan: harimau, gajah, dan beragam tumbuhan endemik. Manusia sendiri tidak terlepas dari dampak kerusakan hutan, termasuk di dalamnya kenaikan suhu udara, polusi, penyebaran kabut asap hasil pembakaran hutan, dan menurunnya kualitas kesehatan akibat racun yang bertebaran di udara. Betapa menyedihkan😥

Tidak ada maksud untuk mencari siapa yang tersalah, hanya ingin menuliskan lagi kalimat-kalimat usang yang mungkin sudah terlupa. Bahwa penebangan hutan punya dampak luar biasa untuk keseimbangan alam secara keseluruhan. Walau pun hutan yang ditebang masih tetap ditanami dengan tanaman lain, sebutlah kelapa sawit, namun kedudukan hutan alami tidak akan pernah bisa diganti dengan keberadaan tanaman yang ujung-ujungnya dipangkas lagi untuk keberlangsungan industri. Jika pun hutan ditanami lagi, butuh waktu lama bagi hutan alami untuk kembali berfungsi sebagai mana mestinya dalam mengisi keseimbangan alam. Itu pun jika tidak ada bencana apa pun, baik bencana alam atau pun akibat ulah manusia, selama proses penghijauan hutan tersebut. Faktanya pembakaran hutan masih berlangsung, dan hal ini memperkecil kemungkinan berhasilnya regenerasi hutan.

Tuhan menciptakan alam dan manusia untuk hidup berdampingan memang. Manusia menjaga alam dan alam membantu memenuhi KEBUTUHAN manusia. Gandhi pun pernah menyatakan bahwa alam sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan manusia, TAPI TIDAK DENGAN KESERAKAHANNYA. Kebutuhan dan keserakahan adalah dua hal yang berbeda, bukan? Kebutuhan akan berakhir ketika kita merasa cukup dan bersyukur atas kecukupan tersebut. Tapi keserakahan, Oh Tuhan, sungguh keserakahan tidak punya ujung. Tanpa ada prasangka apa-apa, coba tanyakan kepada hati sendiri: apakah penebangan hutan di Riau benar-benar murni upaya pemenuhan kebutuhan atau kah semata karena keserakahan beberapa oknum?

Riau sekarang mandi kabut asap hasil pembakaran hutan. Oh, mungkin faktor musim kemarau dan arah angin ikut berperan dalam penyebaran asap ke berbagai daerah lain di Sumatera, dan bahkan ke negara tetangga Indonesia. Tapi kembali lagi, apakah musim dan arah angin dapat menjadi tersalah jika kabut asap itu asalnya tidak dihasilkan oleh manusia? Musim dan arah angin berjalan sebagaimana mestinya, justru produsen kabut asap tersebut (yang mana adalah manusia) yang seharusnya mempertanyakan dirinya sendiri. Jika memang hutan begitu diperlukan untuk sebatas memenuhi kebutuhan manusianya, maka seharusnya kebutuhan itu sudah terpenuhi sejak lama mengingat luas hutan yang tidak sedikit. Namun mengapa sudah lebih dari 10 tahun, kabut asap hasil pembakaran hutan ini selalu menyapa setiap tahunnya? Mana hasil nyata dari tindakan pencegahan yang sudah disebut-sebut dari tahun-tahun yang lalu? Semurah itu kah manusia memandang alam hari ini? Apakah hanya lembaran-lembaran uang yang dapat dilihat dari daun-daun hijau lebat di hutan-hutan rindang?

Sayang sekali hati nurani seringkali mengalah ketika berperang dengan materi. Sebagai individu, mungkin terlalu jauh untuk bicara mengenai regenerasi hutan skala besar. Bukan kapasitas individu. Pihak yang seharusnya diharapkan untuk mempertahankan hutan pun gagal untuk diandalkan. Sekali lagi, hanya mengulangi kalimat lama yang mungkin saja sudah lama ditinggalkan. Mulai saja dari diri sendiri. Satu manusia yang sayang dengan alamnya mungkin terkesan bukan apa-apa. Bisa apa satu manusia? Tapi ketika si satu memberikan contoh kepada yang lain, dan kemudian satu manusia lagi ikut sayang pada alamnya, dan kemudian bertambah satu lagi, lagi, dan lagi. Semoga alam kemudian juga berkenan menyayangi kita kembali.

 

– Desy Amalia Yusri –

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

TKVDW Poster

Untuk yang sudah menyempatkan diri menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, saya pikir banyak hal positif yang bisa didapat dari film itu. Filmnya sendiri diadaptasi dari novel kolosal karya Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).

TKVDW Novel

 

Sudah seharusnya karya sastra besar semacam itu tetap diingat dan dibaca oleh terpelajar nusantara meski pun terdapat jarak sejarah yang cukup lebar hingga ke hari ini. Salah satu caranya adalah dengan mengadaptasi karya besar itu ke dalam film. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tentu bukan karya sastra yang pertama, karena sebelumnya sudah ada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), Sang Penari (dari Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari), dan sebagainya. Sebagai suatu karya sastra, tentu tulisan para penulis besar Indonesia itu tidak akan terlepas dari latar belakang kebudayaan dimana penulisnya mendapatkan pengaruh.

Begitu juga dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang tidak terlepas dari latar Kebudayaan Minangkabau dikarenakan pada kebudayaan itulah Buya Hamka hidup. Saya mendapat beberapa pertanyaan terkait adat Minangkabau dari teman-teman non-Minang yang menonton film ini bersama saya. Bagi yang telah membaca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau pun telah menonton filmnya, semoga tulisan ini dapat sedikit membantu untuk memahami seluk beluk adat Minangkabau yang diceritakan di dalamnya. Bagi yang belum membaca atau pun menontonnya, semoga tetap bisa belajar walau pun sedikit spoiler😉

Dimulai dari status kesukuan Zainuddin. Ayahnya berasal dari Minangkabau dan diasingkan ke Makassar. Di sanalah kemudian Si Ayah menikahi seorang gadis asli Makassar dan memiliki anak Zainuddin. Dia kemudian menjadi yatim-piatu dan tumbuh bersama keluarga ibunya di Makassar. Saat beranjak bujang, Zainuddin kemudian memutuskan hendak hidup bersama kerabat ayahnya di Minangkabau. Konflik muncul ketika di Minangkabau ternyata Zainuddin dianggap sebagai orang tidak berasal atau tidak bersuku. Mengapa demikian?

Sudah lazim diketahui bahwa sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau adalah sistem matrilineal, dimana kekerabatan ditarik dari garis keturunan ibu. Sementara pola pernikahan Minangkabau bersifat eksogami, dimana seseorang seharusnya menikah dengan pasangan di luar sukunya sendiri. Suku disini dapat dipahami sebagai golongan (karena masyarakat Minangkabau memang hidup secara komunal dan berkelompok-kelompok), atau dapat juga diartikan sebagai marga. Karena sistem yang matrilineal, maka yang dimaksud dengan suku tersebut tentu saja suku Sang Ibu. Anak hasil pernikahan adalah anggota suku Sang Ibu, bukan suku Ayah.

Dalam kasus Zainuddin, Sang Ibu bukanlah gadis Minangkabau yang memiliki suku. Ibunya adalah gadis Makassar yang tumbuh dengan pemahaman sistem patrilineal. Dalam pemahaman Sang Ibu, tentu Si Ayah-lah yang memegang kuasa atas Zainuddin. Sementara Ayahnya, dengan pemahaman matrilineal, mengerti bahwa ia tidak memiliki kuasa apa pun atas kesukuan Zainuddin dan menyerahkan kuasa Zainuddin kepada ibunya. Dengan demikian, dalam pemahaman budaya Minangkabau, Zainuddin tidak memiliki suku karena Ibunya non-Minang.

Sampai hari ini pun pernikahan antara laki-laki Minangkabau dengan perempuan di luar Minangkabau masih belum menjadi anjuran meski pun sudah diperbolehkan, karena dikhawatirkan Sang Anak tidak akan memiliki suku (meski pun signifikansi dari peran kesukuan ini makin berkurang). Beda halnya jika perempuan Minangkabau yang menikah dengan laki-laki non-Minangkabau, dimana Sang Anak pada akhirnya akan dapat dimasukkan pada suku ibu dan ayahnya sekaligus.

Mengenai musyawarah ninik-mamak dalam memutuskan calon suami untuk Hayati. Dalam budaya Minangkabau, pernikahan memang lazimnya diprakarsai oleh pihak perempuan. Pertimbangan mengenai calon yang cocok bagi si anak gadis memang menjadi bahan rundingan dalam lingkungan keluarga pihak wanita. Dalam Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck, tampak bagaimana ninik-mamak di pihak Hayati yang kemudian sibuk mempertimbangkan apakah Hayati lebih cocok dengan Zainuddin atau Aziz.

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang gemar bermusyawarah. Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan secara demokratis, bahkan jauh sebelum istilah ‘demokrasi’ itu sendiri dipakai secara luas paska-diimpor dari budaya luar. Falsafah Minangkabau menyebutnya sebagai mupakaik saiyo sakato (mufakat se-iya sekata). Begitu pun dalam hal menentukan jodoh bagi anak gadis. Apalagi Hayati diceritakan sebagai kemenakan (keponakan) dari Penghulu Batipuh, yang mana membuat kedudukan Hayati menjadi perhatian kaum secara luas. Maka tentu saja dalam hal menentukan jodoh pun mamak Hayati tidak akan sembarangan. Digelarlah musyawarah ninik-mamak untuk memutuskannya.

Yang dimaksud dengan ninik-mamak disini mengacu kepada laki-laki dari generasi yang lebih tua. Mamak tidak hanya menjadi sebutan bagi adik laki-laki dari Ibu (paman), namun juga sebutan untuk para tetua pemimpin suku yang dipandang berhak menentukan berbagai keputusan. Sedangkan penghulu dimaknai BUKAN sebagai pihak yang menikahkan sepasang mempelai, namun sebagai pemimpin. Kata penghulu dalam kelembagaan Minangkabau diambil dari kata hulu (tempat berasal/berawal) yang dibubuhi dengan awalan peng-, sehingga penghulu diartikan sebagai yang mengawali suatu kaum, yang memimpin.

Terlepas dari semua aturan adat yang terkesan ketat dan mengekang tersebut, kita harus kembali lagi menengok waktu penulisan novel tersebut oleh Buya Hamka. Novel itu diterbitkan pada tahun 1938 dimana pelaksanaan adat masih sangat kental dan akses informasi dari dan keluar yang tidak seterbuka hari ini membuat adat tersebut kokoh berdiri tidak terganggu. Perlu diingat juga bahwa melalui tulisan-tulisan Zainuddin yang diceritakan dalam novel tersebut tersirat kritikan bernada humanis mengenai pandangan diskriminatif adat yang mengelompokkan manusia berdasarkan keturunan dan kesukuannya. Buya Hamka sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang konsisten mengemukakan nilai-nilai perubahan ke dalam adat Minangkabau agar adat tersebut dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Maka proses kelembagaan yang begitu kaku seperti diceritakan di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tersebut sudah sangat sedikit sekali, jika tidak bisa dibilang sudah memudar, praktiknya di kalangan masyarakat Minangkabau. Kalau pun masih berlangsung, sudah terjadi penyesuaian-penyesuaian agar kelembagaan adat tersebut tetap lestari eksistensinya.

Wisata Pusaka Budaya: Prasasti Peninggalan Kerajaan Minangkabau

Beberapa waktu lalu saat pulang ke Ranah Minang, saya menyempatkan diri momotoran ke Batusangkar, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Budaya Sumatera Barat. Bagaimana tidak, Pagaruyung, pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau, berlokasi di kota tersebut. Banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah berserak di banyak lokasi di Kota Batusangkar, sebagian besar peninggalan zaman batu berupa prasasti-prasasti dan makam-makam raja kuna. Bahkan Istana Basa Pagaruyung (Istana Besar Pagaruyung) masih dipelihara hingga sekarang, meski pun sudah banyak sekali renovasi yang dilakukan untuk mempertahankannya.

Beberapa hasil dokumentasi pribadi akan coba saya ceritakan sejauh pengetahuan saya. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai wisata pusaka budaya singkat di Batusangkar daripada di Istana Basa Pagaruyung itu sendiri.

IMG_1672

 Istana Basa Pagaruyung tentu saja berupa Rumah Gadang, rumah tradisional khas Minangkabau. Rumah panggung tersebut memiliki atap yang terkesan garang namun majestik, atap yang biasa disebut gonjong. Gonjong, yang menyerupai tanduk kerbau, tentu saja terinspirasi dari nama Minangkabau itu sendiri.

Konon nama Minangkabau berasal dari kemenangan yang diperoleh Kerajaan Pagaruyung dalam lomba adu kerbau melawan kerajaan dari pulau seberang. Kerbau seberang itu diceritakan besar, kuat, dan beringas siap diadu. Sementara kerbau kerajaan tidak dapat menyaingi ukuran kerbau kerajaan seberang. Oleh karena itu, dengan kecerdikan luar biasa, kerajaan mengurung anak kerbau menyusui selama beberapa hari tanpa diberikan akses kepada induknya untuk menyusu. Pada tanduk anak kerbau tersebut dipasang minang, semacam besi tajam dan runcing yang didesain melapisi tanduk tersebut. Pada hari pertandingan, begitu kedua kerbau dilepas ke arena aduan, tentu saja anak kerbau yang sangat kehausan itu lari tunggang langgang tanpa tedeng aling-aling menyeruduk kerbau kerajaan seberang yang dianggap induknya, tidak lain untuk mencari air susu. Namun begitu, dalam kisah disebutkan bahwa tanduk anak kerbau tersebut jelas melukai kerbau kerajaan seberang hingga isi perutnya terburai. Dengan demikian, kemenangan tentu saja menjadi milik Kerajaan Pagaruyung. Dari sanalah kemudian nama Minangkabau berasal.

Istana Basa Pagaruyung adalah istana bagi raja-raja Kerajaan Pagaruyung. Nama-nama legendaris seperti Adyawarman dan Adityawarman konon tinggal dan memerintah di istana tersebut. Istana Basa Pagaruyung telah mengalami banyak sekali peristiwa dan melalui banyak tahap renovasi. Istana yang terdapat pada foto di atas juga tergolong masih baru direnovasi setelah kebakaran yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Beberapa foto memperlihatkan keadaan di sekitar halaman istana, termasuk gerbang masuk istana dan rangkiang. Rangkiang merupakan lumbung padi khas Minangkabau dengan atap yang juga bergonjong. Rangkiang biasanya selalu dibangun di halaman depan rumah gadang.

IMG_1679    IMG_1680 - Crop

Di halaman Istana Basa Pagaruyung juga terdapat dokumentasi singkat tentang Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, sebelum kerajaan pada akhirnya harus berhadapan dengan serangan kolonialisme dari Belanda. Selain itu juga terdapat patung Kuda Gumarang, kuda gagah yang konon menjadi tunggangan kebanggaan kerajaan.

IMG_1677     IMG_1675

Tidak jauh dari istana, terdapat peninggalan berupa komplek makam Ustano Raja Alam. Situs seluas 1.196 meter persegi itu dipercaya merupakan tempat dimakamkannya raja-raja kuna Kerajaan Pagaruyung. Terdapat 13 makam bercirikan Islam yang memanjang dari utara ke selatan, dan menjadi bukti bahwa Agama Islam sudah lama berpengaruh di Minangkabau. Ukuran makam antara 210-400 cm dengan lebar 115-280 cm dan tinggi antara 35-35 cm. Raja-raja kuna diyakini tidak cebol seperti kita hari ini (kita? situ aja kaliii …), melainkan tinggi dan tegap. Bahkan makam-makam di sekitar Pagaruyung ini dikenal dengan sebutan Kuburan Panjang, tidak lain karena menjadi tempat bersemayam raja-raja yang perkasa dan tinggi semampai. Nisannya juga dibentuk sedemikian rupa seperti menhir dan bahkan bermotif geometris.

IMG_1683 - Crop   IMG_1682

Wisata pusaka budaya bisa terus dilanjutkan di sepanjang jalan Kota Batusangkar. Cukup dekat dengan Situs Ustano Rajo Alam, terdapat sekumpulan batu Prasasti Adityawarman yang dipagari dalam sepetak tanah kecil di sekitar rumah warga.

IMG_1698   IMG_1686

IMG_1688 IMG_1692 IMG_1694

Aksara yang ditorehkan di atas batu tersebut adalah aksara Jawa (sejarah Kerajaan Pagaruyung sendiri tidak terlepas dari Kerajaan Majapahit) dalam bahasa Sansekerta. Beberapa hurufnya sudah aus dimakan jaman, jadi terjemahan lengkapnya masih belum bisa diungkapkan secara tepat. Secara umum prasasti itu ada yang tidak bertahun (yang umumnya menceritakan riwayat sejarah Adityawarman, dan bahkan Ekspedisi Pamalayu yang terjadi sebelum Adityawarman lahir) dan selebihnya bertanda tahun antara 1269 – 1295 Saka. Meski pun sulit diterjemahkan, namun secara garis besar prasasti tersebut berisikan ucapan selamat dan pujian atas Raja Adityawarman, karena terdapat istilah swasti (istilah yang biasa digunakan dalam acara perayaan dan penanggalan) terukir di batu tersebut. Selain itu juga terdapat dokumentasi beberapa peristiwa bersejarah kerajaan.

Situs yang juga tidak jauh dari Prasasti Adityawarman adalah Prasasti Kubu Rajo. Situs seluas 2.400 meter persegi ini berisikan prasasti-prasasti yang tulisannya juga sudah aus, meski pun ada beberapa yang masih terbaca. Isi prasasti secara umum adalah mengenai anak Raja Adyawarman yang bernama Adityawarman dan menjadi raja di Swarnabhumi (yang berarti Tanah Emas), atau daerah Sumatera hari ini. Selain itu, prasasti yang sudah rapuh dan dipagari tersebut juga di kelilingi oleh banyak makam raja-raja kuna yang letaknya berserak di sekitar prasasti.

IMG_1699    IMG_1706

IMG_1701   IMG_1702

IMG_1703   IMG_1705

Situs berikutnya adalah Batu Batikam. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, batikam bisa berarti bertikam, atau yang memiliki bekas tikaman. Dan memang begitulah adanya batu tersebut, ada lubang bekas ditikam di tengah-tengah batu tersebut. Alkisah, batu tersebut ditikam oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang sebagai tanda perdamaian dengan saudaranya Datuk Katumanggungan perihal sistem pemerintahan yang terlegitimasi di Minangkabau. Setelah batu itu ditikam, batu tersebut menjadi monumen yang menandakan bahwa kedua sistem adat Bodi-Caniago cetusan Datuk Parpatih Nan Sabatang dan sistem adat Koto-Piliang cetusan Datuk Katumanggungan sama-sama boleh berlaku di Minangkabau.

IMG_1718   IMG_1716 - Crop

IMG_1712 - Crop

Batu batikam diletakkan di tengah-tengah tempat musyawarah yang dikenal dengan nama Medan nan Bapaneh. Dalam Bahasa Indonesia, Medan nan Bapaneh berarti area yang disinari matahari. Konon masyarakat Minangkabau senang bermusyawarah, apalagi di tempat-tempat terbuka yang memiliki akses langsung ke alam. Medan nan Bapaneh sendiri disusun dari batu-batu alami dan berbentuk melingkar agar proses musyawarah menjadi interaktif.

IMG_1719 - Crop

Sebenarnya masih ada banyak lagi situs cagar budaya yang tersebar di Kota Batusangkar, hanya saja jaraknya agak lebih jauh dari sekitaran lokasi Istana Basa Pagaruyung. Saya belum sempat ke sana untuk mencari cerita dan foto-foto, mungkin di lain kesempatan. Dari sedikit situs yang sempat saya kunjungi tersebut, ada satu hal kecil yang cukup menarik perhatian saya: kenyataan bahwa semua situs tersebut berlokasi di sekitar Batang Pohon Beringin. Di halaman istana ada Pohon Beringin, di Ustano Rajo Alam, di Kubu Rajo, dan bahkan di Batu Batikam dan Medan nan Bapaneh. Ada apa gerangan antara Pohon Beringin dengan Kerajaan Pagaruyung? Lambang kerajaan? Biar adem? Sumber inspirasi? Entahlah, saya sendiri tidak punya pengetahuan untuk menjawab. Tapi apakah itu penting atau tidak, yah itu kan cuma fakta menarik yang menggelitik saya saja, heheh😉

IMG_1704   IMG_1710

– Desy Amalia Yusri-

Happy National Batik Day !!!

SELAMAT HARI BATIK NASIONAL 2 OKTOBER !!! ( telat posting sih, heheh :”> )

Hari Batik Nasional ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia bersamaan dengan diakuinya Batik Indonesia sebagai Pusaka Budaya Tak-Benda milik Umat Manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh Badan Perserikatan  Bangsa-Bangsa (PBB) yang bernama United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization atau UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 silam.

Batik sudah hidup bersama masyarakat nusantara dari jaman kerajaan-kerajaan kuno. Pada dasarnya batik adalah seni melukis di atas kain. Konon generasi awal batik dilukiskan di atas daun lontar. Objek yang dilukis pun beragam, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga lukisan manusia sendiri seperti yang ada di relief-relief candi nusantara. Pada masa kerajaan seperti Majapahit saja batik sudah sangat berkembang, jadi bisa disimpulkan bahwa seni membatik sudah lahir bahkan dari sebelum Kerajaan Majapahit menjadi besar.

Motif-motif batik juga dipercaya nenek moyang memiliki kekuatan tersendiri. Ada motif-motif yang diyakini pembawa keberuntungan, dan motif seperti ini biasanya digunakan untuk kain gendong anak bayi agar si anak berlimpah rejekinya. Ada pula motif yang dipercaya dapat mengusir roh jahat.

Pada awalnya, batik adalah pakaian yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan semata. Namun dalam perkembangannya, batik kemudian juga dikenakan oleh masyarakat baik pria, wanita, atau pun anak-anak, meski pun ada beberapa jenis motif batik yang sampai hari ini masih terlarang digunakan oleh rakyat biasa dan hanya boleh digunakan oleh kalangan keraton.

Batik yang benar seharusnya aman sepenuhnya untuk digunakan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Sejak turun temurun seni membatik itu dilakukan dengan bahan-bahan alami. Beberapa tumbuhan Indonesia yang sering digunakan sebagai bahan baku untuk membatik adalah nila dan mengkudu, dengan campuran garam dari lumpur dan abu sebagai sodanya. Batik tulis tentu saja memiliki nilai estetika yang jauh lebih tinggi dari pada batik cetak (printing), dengan harga lebih mahal, namun lebih aman dan kualitasnya memuaskan. Praktik membatik masih berlangsung hingga hari ini.

Jenis batik tradisi sendiri sebenarnya ada banyak. Batik memang diketahui berkembang lebih pesat di Tanah Jawa, tapi bukan berarti wilayah di luar Jawa tidak memiliki motif sendiri-sendiri. Rasanya tidak adil jika batik yang indah itu semata-mata diklaim sebagai Budaya Jawa saja. Bukankah budaya itu tersebar secara diaspora? Sulit sebenarnya untuk menentukan apakah suatu budaya adalah otentik milik suatu bangsa, karena diaspora membuat satu budaya dengan budaya yang lain saling mempengaruhi. Jadi mari kita sebut saja batik sebagai milik kita semua se-nusantara😉

Di luar Jawa, batik beradaptasi dengan motif yang mengandung local wisdom setempat. Contohnya di Budaya Minangkabau, Sumatera Barat. Budaya Minang lebih dekat dengan tenunan dari pada batik. Sekadar informasi, tenun di Minangkabau masih lestari hingga hari ini terutama di daerah pegunungan Pandai Sikat. Di sana, rata-rata masyarakatnya bertenun. Sebagian besar, kalau tidak bisa disebut semuanya, masih menggunakan alat tenun tradisional. Keterampilan bertenun sendiri adalah pengetahuan yang diwarisi turun temurun oleh warga Pandai Sikat. Hasil tenunannya bukan main cantik sekali. Harganya juga beragam dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah (untuk tenunan yang mengandung emas).

Dikarenakan oleh dasar kain tenunan yang terlalu grande dan wow untuk dipakai sehari-hari, maka motif-motif tenun tersebut dapat dilukiskan ke atas kain yang lebih casual untuk dipakai jalan-jalan, sekolah, ke kantor, atau hanya untuk sekadar main. Dari sinilah kiranya muncul istilah batik nusantara, atau dalam hal ini batik a la Minangkabau (walau pun sebenarnya Budaya Minangkabau tidak begitu familiar dengan batik, hihihi). Berikut beberapa motif yang dapat ditemui pada kain-kain di Minangkabau (dan juga pada ukiran-ukiran dinding dan pahatan) :

1. Motif Aka Cino Sagagang (Akar Cina Segagang) dan Motif Aka Cino Tangah Duo Gagang (Akar Cina Satu Setengah Gagang)

DSC07725

2. Motif Lumuik Anyuik (Lumut Hanyut) dan Motif Aka Barayun (Akar Berayun)

DSC07726

3. Motif Aka Cino Duo Gagang (Akar Cina Dua Gagang) dan Motif Tangguak Lamah (Tangguk Lemah)

DSC07727

4. Motif Si Kambang Manih (Si Kembang Manis) dan Motif Jarek Takambang (Jerat Terkembang)

DSC07728

5. Motif Rajo Tigo Selo (Raja Tiga Sila) dan Motif Si Kambang Manih (Si Kembang Manis)

DSC07729

6. Motif Siku Kalalawa Bagayuik (Siku Kelelawar Bergayut) dan Motif Jarek Takambang (Jerat Terkembang)

DSC07730

7. Motif Salompek (Selompat/Satu Lompatan) dan Motif Siriah Gadang (Sirih Besar)

DSC07731

8. Motif Siku-Siku Badaun (Siku-Siku Berdaun) dan Motif Pucuak Rabuang Salompek Gunuang (Pucuk Rebung Selompat Gunung)

DSC07732

9. Motif Si Kumbang Janti (Si Kumbang Jati) dan Motif Kuciang Lalok (Kucing Tidur)

DSC07737

10. Motif Kambang Papo (Kembang Papa) dan Motif Aka Baduyun (Akar Berduyun)

DSC07738

11. Motif Si Tampuak Manggih (Si Pucuk Manggis) dan Motif Aka Basaua (Akar Bersaur)

DSC07739

12. Motif Saik Galamai 1 (Sayat Gelamai 1) dan Motif Saik Galamai 2 (Sayat Gelamai 2)

DSC07740

13. Motif Saik Galamai 3 (Sayat Gelamai 3) dan Motif Siku-Siku Baragi (Siku-Siku Bercorak)

DSC07741

14. Motif Si Kambang Perak (Si Kembang Perak)

DSC07742

15. Motif Lain dari Aka Cino (Akar Cina)

DSC07743

DSC07744

16. Motif Sipatuang Tabang (Capung Terbang), Motif Bada Mudiak (Ikan Teri Mudik), Motif Cancadu Bararak (Cencadu Berarak), dan Motif Itiak Pulang Patang (Itik Pulang Petang)

DSC07745

17. Motif Wajik (Wajik), Motif Cancadu Manyasok Bungo (Cencadu Menghisap Bunga), dan Motif Siku-Siku Babungo (Siku-Siku Berbunga)

DSC07746

 

 

CATATAN : Gambar diambil dari buku A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)

 

– Desy Amalia Yusri –

 

 

 

Lontara Project untuk World Heritage Day (Sesi Indonesia dalam Bahasa)

Beberapa hasil dokumentasi Lontara Project regional Bandung dalam sesi “Indonesia dalam Bahasa” untuk merayakan Hari Pusaka Dunia 2013.

IMG_0756

Sesi “Indonesia dalam Bahasa” ini terselenggara berkat kerja sama Lontara Project dengan AICT (Ambassador of Indonesian Culture and Tourism). Dalam sesi tersebut, Lontara Project menyuguhkan materi berupa gambaran umum pusaka nusantara dan upaya pelestariannya, serta mengenalkan sedikit aksara kuna melalui karya epik nusantara, La Galigo.

IMG_5469      IMG_5474

IMG_5481      IMG_5483

IMG_5484      IMG_5499

IMG_5506      IMG_5525

IMG_5535      IMG_5559

Di akhir sesi Lontara Project menerima penghargaan dari AICT karena telah bekerja sama dalam seminar “Indonesia dalam Bahasa” untuk bersama-sama merayakan Hari Pusaka Dunia 2013. Penghargaan diserahkan langsung oleh salah satu duta pariwisata untuk Yogyakarta.

IMG_5761

Dokumentasi paska-acara🙂

IMG_0761    IMG_5616

Tim Lontara Project Bandung di sesi “Indonesia dalam Bahasa”😉

IMG_0766

Sejarah Minangkabau 1 : Kerajaan Pagaruyung

Prasejarah

Bangsa pertama yang datang ke Minangkabau ialah bangsa yang serumpun dengan bangsa Austronesia yang datang secara bergelombang dari daratan Asia Tenggara. Mereka adalah pendukung kebudayaan Neolitikum, yaitu manusia zaman batu baru. Awal perpindahan itu diperkirakan semenjak tahun 2000 SM. Mereka datang sambil membawa kebudayaan asalnya yang ditandai dengan penemuan benda perunggu dan besi, seperti kampak upacara dan mekara yang besar dengan lukisan yang ada hubungannya dengan kebudayaan Dong-son[1].

Mereka diperkirakan tiba pada tahun 500 SM. Sebagai bangsa yang mendiami kepulauan, nenek moyang orang Minangkabau telah diketahui sebagai bangsa pengembara di lautan. Mereka berlayar ke timur hingga Oceania di Pasifik dan ke barat sampai Afrika Barat. Gelombang kedatangan orang dengan perahu dari Pulau Sumatera itu telah banyak mempengaruhi kebudayaan dan bahasa penduduk Madagaskar[2].

 

Awal Sejarah

Pengetahun sejarah bangsa-bangsa yang mendiami Pulau Sumatera sampai abad ke-4 SM sesungguhnya masih samar. Sejarah Sumatera semakin jelas baru ketika Anexecritus yang berada di India menemukan perahu-perahu Sumatera yang dibawa oleh Iskandar Zulkarnaen (356-323 SM) secara teratur mengunjungi negeri itu. Seorang duta dari Sumatera bernama Rachias juga pernah datang ke istana kaisar Romawi, Claudius, pada abad ke-1 Masehi.

 

Zaman Melayu

Dalam peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus dari Yunani, telah diterakan nama Malaei Colon[3] yang terletak di ujung Tanah Semenanjung. Setidaknya dalam masa Ptolomeus, yang hidup di abad ke-1 Masehi, nama Melayu[4] telah dikenal. Berdasarkan catatan Cina, Melayu dikenal memiliki pusat pemerintahan di tepi Batanghari. Kemudian kerajaan melayu itu dinamakan Sriwijaya.

Sebelum berpindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya mendirikan pusat kerajaan di tepi Batangkampar dengan pusat peribadatan di Candi Budha Muaratakus. Setelah pindah ke tepi Sungai Musi, Sriwijaya menjadi besar dan berganti nama menjadi Sailendra setelah rajanya yang bernama Wisnu menikah dengan putri raja Mataram di Jawa Timur. Meski begitu, terjadi perebutan tahta oleh keturunan Raja Wisnu dan kerabatnya di Mataram, sehingga ahli waris Raja Wisnu yang bernama Balaputra kembali ke Sumatera. Balaputra menobatkan diri sebagai raja bergelar Sri Maharaja, dengan kerajaan baru bernama Suwarnabhumi[5].

Karena kerajaan ini dinilai mengganggu lalu lintas perdagangan Kerajaan Cola dari India Selatan menuju China dengan melewati Selat Malaka, maka raja Cola menyerang Suwarnabhumi pada tahun 1017 dan berulang pada 1025. Kerajaan Cola tidak cukup lama menguasai Suwarnabhumi, karena muncul Kerajaan Melayu Darmasraya yang didirikan oleh keturunan Sri Maharaja yang berhasil menyingkir ke hulu Batanghari. Kerajaan ini berkembang dengan raja-raja bergelar Mauliawarman. Oleh rakyatnya raja tersebut disebut Sri Maharaja Diraja[6].

 

Zaman Aditiawarman

Pada tahun 1275, Kerajaan Singasari di bawah Raja Kertanegara melakukan gerakan politik dan militer ke Darmasraya yang terkenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu[7]. Kemudian Kertanegara mengirim Mahamenteri Wiswarupakumara dengan membawa arca Amoghapasa sebagai lambang persahabatan ke Darmasraya.

Selagi utusan Singasari berada di Darmasraya, Kertanegara sendiri dibunuh oleh Jayakatwang, yang kemudian dibunuh pula oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian menjadi raja dan mengganti nama Singasari menjadi Majapahit. Begitu Mahamenteri Wiswarupakumara kembali dengan membawa putri raja Darmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga, sebagai tanda persahabatan Melayu, maka Raden Wijaya-lah yang menerima mereka. Dara Petak diangkat menjadi permaisuri dengan gelar Indraswari, dan melahirkan satu-satunya putra Raden Wijaya, yaitu Jayanegara.

Dara Jingga sendiri, dalam keadaan hamil setelah dikawini oleh pejabat istana Majapahit[8], kembali ke Darmasraya dan melahirkan Aditiawarman. Di Darmasraya, Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, yang diangkat menjadi pejabat tinggi Majapahit di Darmasraya, mendampingi Sri Maharaja Diraja. Dari pernikahan ini Dara Jingga melahirkan seorang putra bernama Prapatih. Nama Prapatih muncul pada arca Amoghapasa di Padang Candi dekat Pagaruyung.

Ketika Patih Gajah Mada dari Majapahit mengucapkan Sumpah Palapa pada tahun 1331, maka Darmasraya ikut membantu upaya Majapahit mempersatukan nusantara tersebut dengan mengirimkan utusan yang dikenal sebagai Aryadamar. Besar dugaan bahwa Aryadamar merupakan Aditiawarman sendiri, saudara seayah dari raja Majapahit Jayanegara[9]. Bersama Gajah Mada, Aryadamar menaklukkan banyak daerah di selatan dan utara, termasuk Bali.

Meski begitu, kedudukan Jayanegara sebagai raja Majapahit menggantikan ayahnya Raden Wijaya, tidak begitu direstui karena dianggap berdarah melayu. Jayanegara dibunuh oleh abdi dalemnya yang bernama Tanca, sementara Tanca sendiri langsung ditikam ditempat oleh Gajah Mada. Setelah itu, atas saran dari Gajah Mada maka Majapahit dipimpin oleh saudara tiri Jayanegara, yaitu Jayawisnuwardani, putri dari Rajapatni. Jayawisnuwardani juga telah menyiapkan putranya, Hayam Wuruk, untuk mewarisi tahta Majapahit. Dengan demikian, maka Aditiawarman yang tidak melihat adanya kesempatan berkuasa di Majapahit, memutuskan untuk kembali ke Malayapura (pusat kerajaan Darmasraya) dan menjadi raja dengan gelar Mauliawarmadewa.

Aditiawarman memindahkan pusat kerajaan ke Pagaruyung sebagai upaya memutuskan hubungan dengan Majapahit dan menghindari serangan yang mungkin datang. Pagaruyung dipilih karena berada di kaki Gunung Merapi, sehingga tidak mudah dicapai karena terhalang Bukit Barisan dan hutan. Namun begitu tidak ada serangan yang datang, besar kemungkinan karena rasa segan Gajah Mada karena Aditiawarman adalah teman seperjuangannya dalam memperluas Majapahit. Sangat disayangkan begitu Gajah Mada meninggal tanpa sebab dan Aditiawarman sendiri digantikan oleh anaknya Ananggawarman, kemudian Majapahit memiliki alasan untuk menaklukkan Pagaruyung. Barulah setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, Majapahit melemah, dan pada akhirnya Pagaruyung bisa lepas sepenuhnya dari kekuasaan Majapahit. Sejak saat itu Pagaruyung menjadi pusat pemerintahan raja-raja Minangkabau.

 

 

CATATAN : Penjelasan ini dirangkum sepenuhnya dari tulisan A.A Navis yang berjudul Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (Jakarta : Pustaka Grafitipers, 1986)


[1] Dong-son adalah nama tempat di sebelah selatan Hanoi. Nama tempat itu dipakai untuk penamaan atas ciri kebudayaan zaman perunggu di Asia Tenggara karena di tempat itulah ditemukan pertama kali benda-benda sejarah dari zaman perunggu di Asia Tenggara, seperti Birma, Muangthai, dan Indonesia.

[2] Bahasa Malagasi di Madagaskar banyak sekali persamaannya dengan bahasa nusantara. Suku bangsa Merina di Madagaskar mempunyai adat istiadat yang sama dengan suku bangsa Minangkabau dan juga menganut stelsel matrilineal.

[3] Paul Wheatley dalam bukunya The Golden Khorsonese (hal. 154) mengatakan penyamaan Malaei Colon dengan Melayu masih diperdebatkan.

[4] Nama melayu berasal dari Bahasa Sanskerta Malayapura, yang berubah menjadi Malayar, lalu menjadi Malayu atau Melayu, sesuai dengan lidah penduduk Semenanjung. Malaya atau malay artinya gunung. Dalam Bahasa Tamil, Melayu berasal dari kata male (gunung) dan yur (orang), sehingga melayu berarti orang gunung.

[5] Suwarnabhumi artinya tanah emas, dan diidentifikasi sebagai Sriwijaya karena kesamaan wilayah dan asal usul rajanya.

[6] Penggunaan nama Mauliawarman atau Mauliawarmadewa dengan gelar Sri Maharaja Diraja merupakan kekhasan raja-raja Melayu sebagaimana tercatat dalam prasasti di hulu Batanghari (Slamet Muljana, Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnadwipa, Jakarta: Idayu, 1981, hal. 224-232)

[7] Pamalayu diartikan sebagai perang melawan melayu. Dalam Nagarakertagama oleh Mpu Prapanca tahun 1365, ekspedisi itu bertujuan menundukkan melayu namun tidak diceritakan adanya peperangan.

[8] Pejabat istana tersebut diduga Raden Wijaya sendiri, karena selain Dara Petak dan Dara Jingga, Raden Wijaya juga menikahi keempat putri Kertanegara yaitu Tribuana, Mahadewi, Jayendradewi, dan Gayatri atau Rajapatni. Dengan demikian Aditiawarman memiliki keturunan darah Majapahit.

[9] Aryadamar berarti orang yang memiliki sinar, sementara Aditiawarman sendiri secara harfiah juga berarti orang yang memiliki sinar (R. Pitono Hardjowardojo, Aditiawarman, hal. 32-33)

 

– Desy Amalia Yusri –